Fontamara Goresan Silone

October 15th, 2007 by akucintabumi

Fontamara. Sebuah buku yang hampir luput dari perhatianku. Ia berada di tumpukan peralatan menjahit ibuku. Tanpa basa-basi, kuambil dan kubuka. Kucari tempat nyaman untuk membuka satu dua lembaran novel Fontamara. Kutemukan tempat itu: di depan pintu rumah. Aku tidak sendirian. Ada semilir angin yang tengah berlari dikejar teriknya matahari. Ada tiga empat kuntum bunga sepatu yang jelita. Tak lupa, anjing tua yang sedang tidur siang. 

Adalah sekelompok cafoni (petani miskin yang membuat lahan produktif) berdiam di desa Fontamara, sebuah desa di Italia Selatan. Hanya segelintir cafoni yang punya sedikit tanah. Kalau di Rusia, petani disebut mujik. Desa itu berada di pegunungan. Tanahnya hanya cocok ditanami jagung dan anggur. Penduduk di sana miskin. Kerapkali mereka makan kulit roti dengan bawang.

Mereka miskin bukan karena malas. Bukan. Sekali lagi bukan. Kemiskinan melanda mereka karena tatanan masyarakat saat itu. Ada yang rakus kekuasaan. Terdapat pula pemilik tanah yang mengeruk banyak keuntungan. Pemilik tanah menggenjot petani dengan upah amat rendah. Ditambah pula pemerintah bertindak keji dengan membuat undang-undang pajak yang mengurangi pendapatan petani.

Awalnya mereka ditipu untuk menandatangani petisi. Isinya sumber air Fontamara akan dialirkan ke kota. Petisi dibawa ke pemerintah kota. Tak berapa lama kemudian, jadilah aliran air dari Fontamara ke kota.

Lantas, bagaimana nasib penduduk Fontamara? Mereka semakin miskin.  Ladang mereka tidak memberikan hasil karena tidak dialiri air. Protes penduduk Fontamara pun bermunculan. Tapi apalah arti teriakan rakyat ketika fasisme merajalela? Teriakan itu hanya membuahkan penyiksaan. Pemerkosaan. Pelabelan identitas - dari pengkhianat sampai sosialis, dari konstitusionalis sampai komunis. Kegilaan. Banjir darah. Dan pada akhirnya semua habis tak bersisa. Tak ada lagi penduduk Fontamara. Tak ada lagi bar kecil dengan orang-orang yang senang berdiskusi. Tak ada lagi para cafoni yang pergi ke ladang menjemput mentari yang baru datang. Tak ada lagi lonceng gereja berdentangan. Tak ada lagi kehidupan.

Semuanya dilukiskan Ignasio Silone dengan empat perspektif penceritaan. Dirinya dan sebuah keluarga Fontamara yang selamat – ayah, ibu, dan anak.

“Biarkan setiap orang mempunyai hak untuk menceritakan kisah dengan caranya sendiri.”

Gayaberceritanya satir. Kesengsaraan penduduk Silone digambarkannya dengan selipan kelucuan. Kegelian yang menyedihkan.

Ignasio Silone adalah nama pena Secondo Tranquilli. Sebelum menjadi penulis, ia aktif di keanggotaan Italian Socialist Party. Selanjutnya, bergiat di Italian Communist Party. Ia bersuara lantang menantang fasisme. Saat itu kekuasaan di Italia bergaya fasis. Alhasil, ia diasingkan ke Swiss. Di sana ia menderita TBC dan depresi. Beres dari penyakitnya, ia menulis novel Fontamara.

Novel berikutnya adalah Bread and Wine. Selanjutnya A Handfull of Blackberries dan The Secret of Luca. Keempat isi novel itu tidak terputus. Saling menyambung.

“Sekiranya kumiliki kekuasaan untuk mengubah hukum niaga dari masyarakat sastra, mungkin kuhabiskan hidupku dengan terus-menerus menulis dan menulis kembali kisah yang sama dengan harapan akhirnya memahaminya dan membuatnya dipahami, persis seperti rahib di Abad Pertengahan yang menghabiskan seluruh hidup mereka dengan melukis dan melukis kembali wajah Juru Selamat, selalu wajah yang sama, namun selalu berbeda.” 

Pemaknaan terhadap kisah-kisah yang ditulisnya membawa Silone kepada penghargaan Jerusalem Prize, sebuah penghargaan yang diberikan kepada penulis yang memperjuangkan kemanusiaan. 

Selesai menghabiskan lembaran terakhir novel Fontamara, saya merebahkan diri di kasur yang tak empuk lagi. Menengadah melihat langit-langit kamar. Berpikir sedikit. Gerak sejarah terus berulang. Kisah penindasan kemanusiaan terjadi di mana pun. 

Di Indonesia? Jangan ditanya. Sudah langganan. Dari pemberangusan orang-orang yang dianggap PKI, peristiwa Santa Cruz di Timor-timur, penembakan misterius di Poso, sampai tragedi Trisakti dan Semanggi. Belum lagi pelbagai peristiwa kecil yang tidak diekspos media massa sehingga kurang atau bahkan tidak diketahui masyarakat. Semisal, penderitaan orang Papua pedalaman menyaksikan gunung “ibu bumi” nya digerus Freeport.

Kisah-kisah penindasan kemanusiaan perlu dibakukan dalam tulisan. Supaya kita tidak pernah lupa. Supaya kita sadar bahwa ada yang harus diubah. Dan itu yang dilakukan Ignazio Silone. Angkat topi baginya, si pejuang kemanusiaan.

                                                Jakarta di malam Idul Fitri 1428 H

manusia dengan segenggam kegelisahan

September 22nd, 2007 by akucintabumi

Apakah setiap manusia harus memiliki kegelisahan?

Pertanyaan tersebut menghantuiku cukup lama. Kira-kira empat atau lima bulan lamanya. Jawabannya kutemukan dalam sebuah diskusi kecil ketika saya berkunjung ke kos teman. Di sana kami bertiga membicarakan banyak hal, termasuk kegelisahan. Jawaban dari pertanyaan itu adalah ”Ya”.

Setiap manusia harus memiliki kegelisahan. Tidak mungkin manusia tidak dihampiri kegelisahan. Pun tidak mungkin manusia lari dari kegelisahan. Kegelisahan akan selalu datang saat diri manusia sadar ataupun tidak sadar. Diskusi kecil mengenai kegelisahan ini membawa kami pada pembagian kegelisahan.

Pertama, kegelisahan eksternal, yakni sebuah kegelisahan yang berasal dari luar diri. Si manusia yang tertimpa kegelisahan tersebut tidak mengerti akan kegelisahannya sendiri. Kegelisahan tersebut berasal dari orang lain Ketika kegelisahan itu muncul, ia tidak mengerti makna kegelisahan itu karena tidak ada materi substansi kegelisahan dalam pikirannya.

Kedua, kegelisahan internal, yakni kegelisahan dari dalam dirinya. Saat ia melakukan suatu tindakan (pengalaman) atau membaca buku dan ia mulai mempertanyakan beberapa hal, di situlah kegelisahan internal muncul. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam pikirannya dan akhirnya timbul banyak pertanyaan.

Kedua kegelisahan tersebut janganlah didiamkan begitu saja. Tidak akan berguna. Malahan akan menyengsarakan diri. Solusinya adalah mencari penyebab kegelisahan dan mencari jawaban atas semua kegelisahan itu. Saat si manusia gelisah dan mencari jawaban akan kegelisahannya, saat itulah ia mulai berpikir.

Berpikir merupakan hakikat manusia. Ini yang membedakannya dari binatang. Mengutip pernyataan Rene Descartes, seorang filosof, matematikus, dan ilmuwan asal Prancis:”saya berpikir, karena itu saya ada”. Ketika manusia berhenti berpikir, maka ia bukanlah manusia lagi. Maka, janganlah pernah seorang manusia berhenti berpikir. Apalagi berhenti merasa gelisah.

Kucing, Ikan Asin, dan Aku

September 22nd, 2007 by akucintabumi

seekor kucing harus

menggondol ikan asin

laukku untuk siang ini

aku meloncat

kuraih

pisau

biar

kubacok ia

biar

mampus

ia tak lari

tapi mendongak

menatapku

tajam

mendadak

lunglai

tanganku

-aku melihat diriku sendiri

lalu kami berbagi

kuberi ia kepalanya

(batal nyawa melayang)

aku hidup

ia hidup

kami sama-sama makan

-Wiji Thukul-

Teman-teman Kecil KKN-ku

September 4th, 2007 by akucintabumi

Lima puluh enam hari lamanya saya berada di Desa Cibogo Hilir, Plered, Purwakarta, Jawa Barat. KKN alias Kuliah Kerja Nyata selama itu memberi pelajaran yang amat berharga. Mungkin karena terlalu berharganya, sampai detik ini pun ingin rasanya menginjakkan kaki di desa itu lagi.

Bersama 19 teman lain saya merasakan kehidupan di pedesaan, walaupun masih terbawa juga gaya hidup kota. Bayangkan, senang rasanya berkumpul, bercerita, dan bermain setiap hari dengan anak-anak SD. Setelah mereka pulang belajar di TPA dan mengaji, suara-suara anak kecil pasti hinggap di rumah.

Mereka berceloteh panjang lebar soal kesibukan di sekolah, bercerita tentang Si Pohang (video lucu berbahasa Sunda), bertanya ini itu, berloncatan ke sana ke mari, sampai ikut main kartu uno. Kalau bercerita mereka berebutan ingin ceritanya didengar. Saya sampai pusing kepala jika mereka bercerita tanpa henti dengan suara besar nan nyaring.

Ada satu anak bernama Ujang. Masih kelas satu SD. Pekerjaannya setiap hari hanyalah mendata teman-teman KKN yang ada di rumah.

“Kak Oca ada? Om Rimbun pergi ke mana? Om Blake main bola ya? Teh Ata di kamar? Kalo Kak Tia ke mana?”

Bocah itu selalu ingin tahu. Ada lagi bocah bernama Roni. Dia anak kelas enam SD berumur 15 tahun. Sudah empat kali dia tidak naik kelas. Malas kata gurunya. Tidak seperti anak berumur 15 tahun, ia bertubuh pendek seolah masih berumur 10 tahun. Ciri khas Roni giginya agak nongol. Walaupun dia pernah berusaha sekuat mungkin untuk mengatupkan bibirnya, tetap saja giginya terlihat. Dia lucu. Amat lucu. Dengan bangganya dia pernah bercerita.

“Saya udah punya pacar. Pacar saya cantik, naik motor Mio. Dia naik motor ke mana-mana, kalau saya mah naik sepeda. Saya pernah kasih surat cinta ke dia tapi dia tolak cinta saya.”

Kami semua yang mendengar ceritanya tertawa.

“Jadi bukan pacar dong namanya. Kan sudah ditolak,” celetuk kawan saya.

Hahaha…semua tertawa lagi. Namun, semangatnya tidaklah surut. Ia keluarkan dompet dari sakunya dan menunjukkan foto “pacar”nya itu.

Lain lagi dengan Dede. Dia kelas tiga SD, kawan karib Ujang. Pernah dia memetik bunga kamboja di pinggir rel kereta api dan memberikannya ke beberapa teman perempuan KKN.

Ada satu bunga yang disemprotkan parfum milik bapaknya yang lurah itu. Diberikannyalah bunga harum itu kepada teman saya.

So sweet,” kata teman saya.

Sudah tidak heran lagi rumah kontrakan  saya dan teman-teman jadi sarang bermain anak-anak kecil. Dalam satu hari, mereka bisa main dari jam 2 siang sampai jam 9 malam. Sampai-sampai kalau pulang malam beberapa orang tua menjemput mereka di depan rumah. Sekali waktu pernah kami ngeliwet bersama.

Menunya sederhana. Hanya nasi, tahu goreng, ikan asin, dan sambal. Kami semua berkumpul mengelilingi makanan yang tersaji di atas daun pisang panjang. Kami makan sambil bercerita dan tertawa-tawa. Tidak ada identitas mahasiswa atau anak SD. Tidak ada identitas orang kota dan orang desa. Semua melebur menjadi sekumpulan kawan akrab.

Sepakbola menjadi permainan yang membuat kami dan teman-teman kecil kami bersatu. Siang dan malam hari, sepetak lapang di sebelah rumah selalu ramai. Tiada hari aktivitas kami tanpa teman-teman kecil itu. Sebuah bola berwarna emas menjadi benda kenang-kenangan yang kami berikan kepada mereka.

Sampailah di hari terakhir kami harus berpisah. Mereka ada di rumah sejak pagi. Mereka ribut minta kenang-kenangan. Kalau orang lain memberikan kenang-kenangan, kami lain cerita. Tanpa basa-basi mereka ambil barang di rumah. Barang apa saja yang masih tergeletak di setiap sudut rumah mereka angkut. Dari karet gelang, kertas materi program, sandal jepit, sendok, gunting kuku sampai autan dijadikan barang kenangan.

Ga sekalian tivi dan bangku di depan diangkut juga?” tanya saya.
”Hah, bener nih, kak tivi juga boleh?” ujar seorang bocah dengan mimik serius.

Saya pun cuma geleng-geleng kepala. Oow, bisa-bisanya…. .

Sebelum pulang ke Bandung kami diundang makan di rumah salah seorang warga. Selesai makan, kami pulang ke  rumah kontrakan dengan perut kekenyangan dan niat mengambil barang-barang yang sudah dipak. Kami terpaku di depan pintu rumah. Di pintu tertempel karton-karton kecil berbentuk huruf:

“I LOVE KKN UNPAD. JANGAN PU”

Kami tercekat. Diam. Terpaku. Bocah-bocah kecil itu berdiri di dekat kami. Saya membaca ulang kalimat itu dalam hati: “I love KKN Unpad. Jangan pulang”.

Tiba-tiba saya menyadari mereka amat sedih dengan kepergian kami. Mereka amat merasa kehilangan kami. Hampir saya menangis.

Namun, karena terlihat tidak ingin menangis saya menengadahkan kepala. Menahan air mata. Setelah tersadar dari sihir kalimat itu, kami masuk rumah untuk mengambil barang. Beberapa teman siap menaiki motornya.

Di depan rumah, bocah-bocah itu berdiri dengan wajah sedih. Saya dan teman-teman sudah duduk di atas motor. Pastinya dengan barang bawaan banyak dan berukuran besar. Kami pamit. Mereka menangis. Motor pun dijalankan. Sekali saya menengok ke belakang. Mereka masih menangis. Saya pun ikut menangis.      

Segoro Wedi: Sebuah Kenangan

April 12th, 2007 by akucintabumi

Aku ingin kembali ke sana. Menapaki jejak kembali di tanah berbatu kecil dan besar. Ingin lagi merasakan hembusan malam yang menusuk tulang. Bertiga bersama di tengah rimba. Napas memburu. Denyut jantung seolah terdengar bertalu-talu menandakan kami harus sejenak beristirahat. Tapi yang kami lakukan hanyalah memburu pagi, meninggalkan malam yang ternyata berujung sunyi. Terus mendaki tanpa bersuara. Sampailah kami di sana. Di puncak Gunung Slamet, Segoro Wedi.

Aaahhh, mentari terbit rupanya. Mengirimkan pesan selamat pagi kepada angin yang kemudian membisikkannya kepada kami. Batu besar di sana menjadi saksinya. Bukan rasa menang yang terasa. Bukan. Bukan pula rasa bangga yang meliputi diri. Ada rasa tidak berarti yang meliuk-liuk dalam hati.
Ya, aku merasa kecil melihat hadiahNya. Hadiah yang diberikan setiap hari tapi tak pernah disyukuri. Kado istimewa yang jarang diingat manusia, termasuk diriku.

Di sebelah mentari yang masih malu-malu, berdiri kokoh puncak Sundoro dan Sumbing. Indah sekali…
Kuingin merengkuh awan yang berarak kian kemari seperti kembang gula menari. Ingin kuambil, kugigit, dan kuhisap manisnya. Tapi sekali lagi aku merasa tak berdaya, lemah, kecil. Kecil seperti tuma, tidak sebesar alam raya. Kutarik napas dalam-dalam lantas kuhela kembali angin segar Segoro Wedi Tak terasa lelahnya diri. Yang ada hanyalah rasa syukur tiada henti. Segoro Wedi, terima kasih. Kau sadarkan aku dari lupa diri.

Menyontek. Tanya Kenapa…?

April 10th, 2007 by akucintabumi

Saat Ujian Tengah Semester (UTS) berlangsung, seorang dosen menghampiri mahasiswanya. Sang dosen berdiri di depan mahasiswa yang tengah serius mengerjakan soal-soal ujian. Tiba-tiba sang dosen mengambil secarik kertas di balik lembaran jawaban mahasiswa. Kertas itu dibaca sebentar oleh dosen lantas dirobeknya. Semua mahasiswa dalam kelas terperangah. Sang dosen berlalu.

Ia menghampiri mahasiswa lain, yang berada di depan mahasiswa yang barusan dihampirinya. Sama seperti yang dilakukan pada mahasiswa sebelumnya, sang dosen mengambil kertas di balik lembaran ujian mahasiswa itu. Ternyata kertas yang diambilnya itu tidak selembar, tetapi berlembar-lembar. Bentuknya ramping dan sangat panjang. Mahasiswa dalam kelas semakin terperangah. Sang dosen merobek kertas itu dan melemparkannya ke lantai tengah kelas. Wajahnya tegang. Dahinya berkerut.

Saya tercengang. Konsentrasi mengerjakan soal ujian menjadi turun. Saya memikirkan alasan teman-teman saya yang menyontek. Ke luar kelas, saya bertemu dua kawan. Kami memperbincangkan soal menyontek itu. Teman saya mengatakan “ya tak apalah mahasiswa menyontek.” Sedangkan kawan satunya lagi bilang “mereka menyontek karena terasing. Mereka tidak mencintai pekerjaannya. Mereka tidak mencintai kuliah.” “Gue dan lo ga cinta kuliah. Kita malas-masalan kuliah, tapi kita ga nyontek. Jadi terasing bukan alasan yang tepat.” Saya menimpali.

Si pelaku beralasan ia melihat teman-teman yang berada di depannya menyontek, maka ia pun berperilaku seperti itu. Hah, itu bukan alasan yang tepat. Kok bisa contekan sudah ada di balik kertas ujiannya? Itu berarti ia sudah mempersiapkan contekan sebelum mengikuti ujian. Itu berarti pula ia sadar akan tindakannya.

Menyontek masalah integritas diri. Itu simpulan yang saya dapat ketika berdebat panjang dengan teman satu kosan. Kami membicarakan alasan seseorang menyontek. Garis besar perbincangan itu begini:

Pertama, Mengapa seseorang menyontek? Mungkin ia tidak siap mengikuti ujian. Mengapa tidak siap? Karena ia tidak belajar sebelumnya.

Kedua, mengapa seseorang menyontek? Karena ingin mendapatkan nilai bagus. Mengapa ingin mendapatkan nilai bagus? Karena ingin memiliki IPK tinggi, ingin dicap pintar, atau tuntutan orang tua.

Ketiga, mengapa seseorang menyontek? Karena nilai buruk tindakan menyontek rendah, tindakan itu bukan masalah besar, bukan hal yang salah. Mengapa ia menilai seperti itu, sedangkan saya menilai tindakan menyontek sebagai tindakan bernilai buruk, masalah besar, tindakan yang salah? Ini kembali pada pandangan setiap orang. Pandangan nilai itu baik atau buruk, besar atau kecil, benar atau salah dibentuk karena faktor lingkungan misalnya lingkungan sekolahnya dulu atau lingkungan keluarga.

Pembentukan itu berasal dari lingkungan tempat kita berasal atau lingkungan  berinteraksi dengan orang lain. Dengan pengalaman yang berbeda, setiap orang punya pandangan berbeda pula dalam menilai suatu tindakan. Penilaian pada tindakan berdasarkan norma moral seseorang. Menurut Franz von Magnis (saya baru membaca bukunya J) norma moral muncul sebagai suatu kekuatan yang amat besar dalam hidup manusia. Atas dasar norma moral, orang mengambil sikap dalam suatu kesadaran.

Bagi saya, ini masalah kesadaran diri. Masalah etika. Masalah integritas diri. Menyontek sama halnya dengan membohongi dan membodohi diri sendiri.

saya dan teman-teman

April 2nd, 2007 by akucintabumi

awalnya sekadar berkumpul untuk bertukar pikiran. boleh dikatakan diskusi kecil dengan tema sederhana. diskusi kecil tersebut juga menjadi wadah bagi saya dan teman-teman untuk saling mengenal satu sama lain, dari lontaran lelucon sampai curahan hati di malam hari menjelang pagi.

saya menyadari kami berasal dari berbagai latar belakang, ciri khas, sifat, dan lain-lain. uniknya, hal-hal tersebut tidak melebur, namun saling melengkapi. kelebihan dari teman A dibagikan kepada teman B. kekurangan teman C ditutupi oleh teman D.

intinya, saling melengkapi.

kami hanya punya satu modal yakni rasa persaudaraan.

saya dan calo

December 12th, 2006 by akucintabumi

saya ingin sedikit berbagi..
tadi malam saya berdiri di pertigaan leuwi panjang menanti bus ke arah cirebon. semenit dua menit menunggu, tak kunjung tiba bus tersebut. saya pun mengamati keadaan sekitar. beberapa orang - sebut saja calo - tengah memanggil penumpang untuk menaiki angkot ke berbagai jurusan. ada jurusan garut, tasikmalaya, sampai cicaheum. mereka berteriak ke berbagai penjuru jalan raya. mereka pun mendatangi orang-orang yang melintasi jalan itu untuk menanyai ke arah manakah pejalan kaki hendak pergi. kerap kali saya menyaksikan mereka memaksa pejalan kaki untuk menaiki angkot. belum puas saya mengamati, datang seorang calo yang juga menawari saya naik angkot ke arah garut. setelah saya menjawab pertanyaannya, ia pergi. kemudian datang lagi seorang calo ke arah saya. bertanya hal yang sama dengan orang pertama. saya pun menjawab dengan pernyataan serupa. ia pergi. beberapa menit kemudian, datang lagi orang ketiga. hal yang sama pun terjadi. saya mulai berhitung. ternyata ada delapan orang yang menanyai saya ke arah manakah saya akan pergi. huu menjengkelkan memang. saya merasa terganggu. tapi saya sadar mereka sedang mencari uang. begitu giatnya mereka mencari penumpang di malam hari. berkoar-koar sepanjang malam. ya, saya harus bisa menghargai mereka. tidak salah jika mereka bolak-balik bertanya kepada saya. namanya juga mencari uang. apa pun dilakukan. tidak peduli saya jengah melihat tingkah laku mereka.

renungan di pagi hari

December 9th, 2006 by akucintabumi

ternyata ilmu pengetahuan amat sangat luas. hal ini memang telah saya sadari sejak dulu, namun dua hari lalu saya semakin tersadarkan saja. ada seseorang yang membicarakan sejarah indonesia. dia hapal kronologis kejadian dan dapat menganalisisnya secara tajam. saya yang tidak mengerti hanya bisa menganggukkan kepala. hanya itu, kadang ditambah senyuman juga. wuah sepertinya masih banyak ruang kosong di otak saya. setelah perbincangan usai, saya berkeinginan kuat untuk bisa belajar dan memahami sejarah indonesia. naik angkot saya kembali berpikir untuk mendekati ilmu pengetahuan, setidaknya bidang-bidang yang saya senangi. ya, kata banyak orang manusia harus berusaha. maka, jadilah saya berusaha. sampai di kosan, saya sudah berniat untuk membaca sebuah buku. tetapi, lagi-lagi dan lagi-lagi saya harus berhadapan dengan kegiatan yang lain. hhh jadi kapan saya bisa berkenalan lebih jauh dengan ilmu pengetahuan?

menabung

November 21st, 2006 by akucintabumi

Menabung

Kata menabung kedengarannya sepele. Tapi maknanya melambung tinggi. Dulu ketika saya kecil, orang tua menganjurkan agar saya rajin menabung di celengan. Akhirnya saya ke pasar membeli celengan kendi untuk menabung. Senang sekali rasanya bisa memasukkan uang receh setiap hari. Namun kegiatan itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam beberapa minggu mengucurkan koin ke dalam kendi, saya pun memecahkan barang tersebut. Uangnya untuk jajan chiki dan membetulkan sepeda. Masuk kelas lima SD, saya menabung di sebuah bank swasta. Entah berapa jumlahnya sampai ibu saya mengambil uang tersebut. Untunglah diambil karena beberapa lama setelah saya tidak menjadi nasabah lagi, bank tersebut mati. Sejak itulah saya tidak pernah menabung lagi. Toh, banyak keperluan yang membuat saya tidak bisa menyisihkan uang lagi.
Tiba-tiba saya menemukan sebuah berita menarik di Kompas. Beberapa supir angkot di Bandung ternyata menabung dengan bentuk yang tidak ”normal.” Setiap harinya mereka menyisihkan beberapa koin ke celah pintu depan angkot. Bayangkan, setiap hari dengan modal hanya beberapa receh. Di ujung bulan, mereka sibuk membongkar pintu depan. Untuk apa? Untuk mengambil uang tabungan guna membiayai sekolah anak-anak mereka. Rata-rata mereka ”menerima” Rp80.000,00 dari hasil menabung. Tabungan itu pun belum cukup memenuhi besarnya biaya pendidikan di Bandung.
Mungkin kedengarannya lucu. Tapi saya melihatnya sebagai sebuah ironi di zaman edan ini. Sedih membayangkan mereka harus menyisihkan koin demi menyekolahkan anak. Sedih membayangkan mereka harus menahan lapar saat uang setoran dimasukkan ke celah pintu mobil. Itulah perjuangan hidup ketika mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa menabung di tempat yang ”normal”. Mereka tidak bisa menabung di bank. Mereka tidak mendapat bunga dari hasil tabungannya. Tetapi hasil yang tak seberapa itu berguna buat anak-anaknya.
Saya pun tergugah untuk kembali menabung. Yah, cukup menabung uang receh di kantong plastik. Siapa tahu berguna kalau saya sudah tidak mempunyai uang lagi dan orang tua belum mengirim uang? Menabung, menabung, dan menabung, dengan cara apa pun. Sebuah gaya hidup yang bisa dijadikan perlawanan menghadapi kejamnya kehidupan.