Sedang Merasa… .
Bus melaju cukup kencang di ruas jalan menuju Semarang. Dari kaca jendela bus yang tak bening saya lihat sederatan pepohonan. Setiap bagiannya terlihat sekelebat. Hanya sekerjap saja saya melihat sudah berganti dengan sederetan pepohonan yang lain. Segurat jingga dari kisi-kisi pepohonan merayap bias. Tidak menyilaukan mata. Hanya tampak malu-malu. Sebentuk kekaguman mencuat dari mulut saya.
Terlena sejenak saya pada paduan warna-warna alam itu. Begitu sejuk. Seperti ingin menyatu saja rasanya dengan jingganya matahari dan hijaunya pepohonan. Sore dengan guratan jingga itu membawa saya terlempar ke sebuah kamar di sebuah kota kecil. Dan kisah itu melintas lagi di benak saya… .
Tak usahlah saya cerita panjang lebar tentang kisah saya itu. Saya hanya ingin merasa. Saya merasa terbebaskan. Tak lagi saya dikerangkeng dalam sebuah diktum harus ini atau itu. Tak perlu lagi saya berbohong menyembunyikan sesuatu yang tak disukainya. Tak perlu lagi ada semua itu. Saya bebas!
Tiba-tiba saya terantuk pada ingatan tentang pengorbanan. Berapa banyak sudah yang sudah saya berikan kepadanya? Seberapa besar penderitaan saya untuk mengakui kekurangannya? Seberapa dalam rasa pengertian saya untuk menerima dia dengan segala kekurangan dan kealpaannya? Dan mengapa saya lakukan semuanya dengan kesadaran (atau ketidaksadaran)? Saya seperti orang yang berasal dari dalam bawah tanah. Keluar tersuruk untuk mencari segarnya udara. Susah benar saya mencapai segantang udara segar. Sampai saya mendapatkannya, kemudian merasakannya. Saya melayang dalam udara. Lama saya terbang dan menari di sana. Hingga kesadaran membawa saya terpuruk lagi ke tanah. Bum! Keras dan menyentak.
Ah, saya masih berada di atas bus yang melaju cukup kencang. Seorang lain berada di sebelah saya. Ia duduk saja menatap lurus ke depan. Saya memanggilnya. Ia menengok ke arah saya dengan ekspresi wajah tak berubah. Ingin cerita, kata saya. Ceritalah, balasnya. Dan saya sedikit bercerita. Sedikit saja karena saat saya ingin melanjutkan bercerita mata saya sudah tergenang butir-butir air. Tak tahan saya sampai akhirnya air itu menetes. Satu demi satu.
Saya memalingkan wajah, melihat seberkas jingga di luar sana. Begitu sulitnya saya mencari kebebasan. Padahal manusia dikutuk untuk bebas, kata Albert Camus. Mungkin mencari kebebasan itu perkara yang mudah. Namun, jika pertanyaannya adalah ”bagaimana cara kita memaknai kebebasan?”, itu masalah pelik. Saya telanjur memperhitungkan pengorbanan dan mengkaitkannya dengan kebebasan yang saya peroleh. Dalam hitungan saya pengorbanan besar yang telah saya lakukan dibalas dengan keterbatasan ruang bebas.
Seorang lain yang berada di sebelah saya itu masih melihat ke arah saya. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin kasihan kepada saya atau malah bingung karena saya menangisi masalah itu. Belum habis saya mereka-reka, lengannya sudah berada di depan wajah saya. Seka saja, katanya. Saya tahu wajah ini memang perlu diseka. Pasti berantakan sekali. Nanti kotor, jawab saya. Ga apa, balasnya. Saya seka sisa-sisa tangis saya di lengan bajunya. Tak ketinggalan ingus juga melekat di sana.
Seorang lain yang berada di sebelah saya itu memalingkan wajah. Meninggalkan saya untuk menyendiri. Saya terbenam lagi dalam kubangan kesedihan. Mencari jawaban dari pertanyaan, yang sampai sekarang belum saya temukan. Mungkin seminggu lagi, sebulan kemudian, atau setahun berlalu jawaban itu baru saya dapatkan. Saya buang jauh pandangan saya. Warna jingga tak lagi membias. Bus berlari meninggalkan pepohonan. Tinggal saya yang masih melahap kesendirian.