putri cina
Judul buku: Putri Cina
Penulis :
Sindhunata
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007
Tebal : 304 halaman
Siapakah saya?
Mengapa saya ada? Darimana saya? Mengapa saya bernama Putri Cina?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus menghantui Putri Cina. Jikalau manusia
adalah debu yang diterbangkan entah ke mana, mengapa Putri Cina disebut Cina?
Dan mengapa dirinya berada di tanah Jawa?
Pertanyaan-pertanyaan
soal esensi diri membuat Putri Cina terlempar dalam berbagai peristiwa. Ia
berada di beragam keterikatan ruang dan waktu. Sindhunata memulai
penceritaannya dari babad Tanah Jawa. “Sesungguhnya sejarah hanya berulang. Apa
yang akan terjadi kelak, telah terjadi sekarang. Dan apa yang terjadi sekarang,
telah terjadi dulu.” Ucapan ini mengawali penceritaan mengenai riwayat
pertikaian di Tanah Jawa. Pertengkaran antara Kurawa dan Pandawa memunculkan
Perang Baratayudha, sebuah perang saudara dalam perebutan kekuasaan.
Pertumpahan darah
juga mengenai orang-orang Cina di Tanah Jawa. Pada 1740 orang-orang Cina
dibantai di Batavia oleh Belanda karena Belanda tidak tenang melihat gejolak ekonomi orang Cina
meningkat. Di masa itu terjadilah pembantaian massal orang Cina. Semua rumah
dan toko milik orang Cina dijarah dan dibakar habis. Pada 1946 orang-orang Cina
yang bermukim di sebelah barat sungai Tangerang dibunuh. Tahun berikutnya politioneel actie dilancarkan Belanda.
Penjarahan, perampokan, perkosaan, dan pembunuhan terhadap orang Cina terjadi.
Pada 1948 sekitar
1.500 orang Cina dibantai oleh sebuah laskar rakyat terkenal di Jawa Timur.
Peristiwa pertumpahan darah orang Cina di Indonesia berujung pada Mei 1998.
Banyak rumah dan toko orang Cina dijarah. Perempuan-perempuan Cina diperkosa.
Akibat peristiwa itu banyak dari mereka yang tak waras lagi atau melarikan diri
dari Indonesia.
Putri Cina pun
mengada di Negara Pedang Kemulan. Ia menjadi Giok Tien, istri Senopati Gurdo
Paksi. Lagi-lagi karena haus kekuasaan dan nafsu cinta, pertumpahan darah
terjadi di negara itu. Giok Tien kembali mempertanyakan dirinya yang berada di
tengah-tengah pertikaian. Apakah ia salah menjadi perempuan Cina yang bermukim
di Jawa? Mengapa kehidupannya harus dirundung kekerasan?
Giok Tien semakin
merasa tak berdaya menemukan hakikat hidupnya. Pelipur laranya hanyalah mencintai
dan dicintai Gurdo Paksi. Mereka berdua mati dan menjadi sepasang kupu-kupu
cantik. Giok Tien memang sudah mati, tetapi tidak bagi Putri Cina. Ia terus
mengeksistensikan dirinya untuk mengetahui esensi keberadaannya. Proses
memaknai segala identitas, hakikat hidup, asal-muasal, dan tujuan hidup begitu
panjang dan melelahkan. Akhirnya hanya pengharapan yang tersisa, yang terwujud
dalam permata-permata Suinli. Harapan untuk mendapatkan pengampunan yang
melingkar dalam cinta dan belas kasihan. Dan harapan itu menjadi harapan
anak-anak Cina untuk terus menyempurnakan keberadaan mereka.
Sindhunata
mengajak kita untuk menelusuri eksistensialisme Putri Cina dengan meminjam
kisah-kisah bersejarah. Ia meletakkan Putri Cina dalam keterbatasan waktu dan
ruang. Ia memorakporandakan identitas perempuan Cina untuk menemukan esensi
mereka yang sebenarnya. Sindhunata tak menutup mata melihat kondisi bangsa ini
yang masih mempermasalahkan identitas orang-orang Cina. Di saat damai memang
tak ada yang patut dipersalahkan. Namun perlu ada obyek yang dijadikan kambing
hitam ketika suasana perdamaian tak lagi ada. Dan ketika kita mau menengok lagi
ke dalam kubangan sejarah, maka orang-orang Cinalah yang menjadi korban guyuran
kesalahan dan penghinaan.
Novel ini seolah
menemani kita untuk kembali merefleksikan keberadaan orang-orang Cina yang
sudah terlalu banyak ditimpa identitas negatif. Kisah Putri Cina menghampiri
kita untuk mempertanyakan lagi keberadaan manusia, terlepas dari identitas saya
adalah orang Jawa, Sumatra, Cina, India, dan sebagainya. Semua manusia adalah saudara. Kita mengada untuk mencari esensi
diri masing-masing. Maka, tak perlu lagi ada persoalan mempertanyakan identitas
yang satu dengan yang lain. Apalagi sampai berujung pada kekerasan dan
pertumpahan darah.