Archive for June, 2008

putri cina

Monday, June 16th, 2008


Judul buku: Putri Cina
Penulis  :
Sindhunata
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007
Tebal : 304 halaman
Siapakah saya?
Mengapa saya ada? Darimana saya? Mengapa saya bernama Putri Cina?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus menghantui Putri Cina. Jikalau manusia
adalah debu yang diterbangkan entah ke mana, mengapa Putri Cina disebut Cina?
Dan mengapa dirinya berada di tanah Jawa?


Pertanyaan-pertanyaan
soal esensi diri membuat Putri Cina terlempar dalam berbagai peristiwa. Ia
berada di beragam keterikatan ruang dan waktu. Sindhunata memulai
penceritaannya dari babad Tanah Jawa. “Sesungguhnya sejarah hanya berulang. Apa
yang akan terjadi kelak, telah terjadi sekarang. Dan apa yang terjadi sekarang,
telah terjadi dulu.” Ucapan ini mengawali penceritaan mengenai riwayat
pertikaian di Tanah Jawa. Pertengkaran antara Kurawa dan Pandawa memunculkan
Perang Baratayudha, sebuah perang saudara dalam perebutan kekuasaan.

Pertumpahan darah
juga mengenai orang-orang Cina di Tanah Jawa. Pada 1740 orang-orang Cina
dibantai di Batavia oleh Belanda karena Belanda tidak tenang melihat gejolak ekonomi orang Cina
meningkat. Di masa itu terjadilah pembantaian massal orang Cina. Semua rumah
dan toko milik orang Cina dijarah dan dibakar habis. Pada 1946 orang-orang Cina
yang bermukim di sebelah barat sungai Tangerang dibunuh. Tahun berikutnya politioneel actie dilancarkan Belanda.
Penjarahan, perampokan, perkosaan, dan pembunuhan terhadap orang Cina terjadi.

Pada 1948 sekitar
1.500 orang Cina dibantai oleh sebuah laskar rakyat terkenal di Jawa Timur.
Peristiwa pertumpahan darah orang Cina di Indonesia berujung pada Mei 1998.
Banyak rumah dan toko orang Cina dijarah. Perempuan-perempuan Cina diperkosa.
Akibat peristiwa itu banyak dari mereka yang tak waras lagi atau melarikan diri
dari Indonesia.



Putri Cina pun
mengada di Negara Pedang Kemulan. Ia menjadi Giok Tien, istri Senopati Gurdo
Paksi. Lagi-lagi karena haus kekuasaan dan nafsu cinta, pertumpahan darah
terjadi di negara itu. Giok Tien kembali mempertanyakan dirinya yang berada di
tengah-tengah pertikaian. Apakah ia salah menjadi perempuan Cina yang bermukim
di Jawa? Mengapa kehidupannya harus dirundung kekerasan?

Giok Tien semakin
merasa tak berdaya menemukan hakikat hidupnya. Pelipur laranya hanyalah mencintai
dan dicintai Gurdo Paksi. Mereka berdua mati dan menjadi sepasang kupu-kupu
cantik. Giok Tien memang sudah mati, tetapi tidak bagi Putri Cina. Ia terus
mengeksistensikan dirinya untuk mengetahui esensi keberadaannya. Proses
memaknai segala identitas, hakikat hidup, asal-muasal, dan tujuan hidup begitu
panjang dan melelahkan. Akhirnya hanya pengharapan yang tersisa, yang terwujud
dalam permata-permata Suinli. Harapan untuk mendapatkan pengampunan yang
melingkar dalam cinta dan belas kasihan. Dan harapan itu menjadi harapan
anak-anak Cina untuk terus menyempurnakan keberadaan mereka.

Sindhunata
mengajak kita untuk menelusuri eksistensialisme Putri Cina dengan meminjam
kisah-kisah bersejarah. Ia meletakkan Putri Cina dalam keterbatasan waktu dan
ruang. Ia memorakporandakan identitas perempuan Cina untuk menemukan esensi
mereka yang sebenarnya. Sindhunata tak menutup mata melihat kondisi bangsa ini
yang masih mempermasalahkan identitas orang-orang Cina. Di saat damai memang
tak ada yang patut dipersalahkan. Namun perlu ada obyek yang dijadikan kambing
hitam ketika suasana perdamaian tak lagi ada. Dan ketika kita mau menengok lagi
ke dalam kubangan sejarah, maka orang-orang Cinalah yang menjadi korban guyuran
kesalahan dan penghinaan.


Novel ini seolah
menemani kita untuk kembali merefleksikan keberadaan orang-orang Cina yang
sudah terlalu banyak ditimpa identitas negatif. Kisah Putri Cina menghampiri
kita untuk mempertanyakan lagi keberadaan manusia, terlepas dari identitas saya
adalah orang Jawa, Sumatra, Cina, India, dan sebagainya. Semua manusia adalah saudara. Kita mengada untuk mencari esensi
diri masing-masing. Maka, tak perlu lagi ada persoalan mempertanyakan identitas
yang satu dengan yang lain. Apalagi sampai berujung pada kekerasan dan
pertumpahan darah.

 

 

SMS Tak Berbalas

Sunday, June 1st, 2008

Hari ini saya hanya di rumah. Makan, beberes rumah, nonton televisi, tidur siang, membaca koran. Bukan rutinitas saya. Karena saya di rumah maka saya bisa melakukan semua ini. Berbeda bila saya berada di Jatinangor.

            Ada suatu waktu saya mengirim sms kepada si pria laut:
            
”di Trans ada great wall. Whuw!”

          Sent:

          10:51:21

          31-05-2008

            Saat itu saya sedang menonton acara jalan-jalan dari sebuah stasiun televisi swasta. Sponsor acara itu Simpati. Indy dan Bekti yang jadi presenternya, ditambah seorang bintang tamu yang saya lupa namanya. Mereka berwisata ke tembok besar Cina. Ini tempat yang menjadi bahan pembicaraan saya dengan si pria laut saat kami menjejakkan kaki di Candi Borobudur.

Dia kagum dengan megahnya candi yang dibangun pada masa wangsa Syailendra itu. Saya membantahnya. Boleh-boleh saja kagum, tetapi di balik kekaguman itu harus disadari begitu banyak darah dan keringat yang membangunnya. Sama halnya dengan tembok besar Cina. Menikmati megah dan besarnya tembok itu tak boleh dilupakan berapa ribu orang yang mati kelaparan karena bekerja siang malam membangun tembok itu.

            SMS saya ternyata tak berbalas. Mungkin dia sedang sibuk. Saya menghibur diri dengan keyakinan itu. Selepas tidur siang saya bangun dan melihat handphone. Hanya ada sebuah sms. Isinya tentang tugas kuliah. Tidak menariklah. Saya sedang menunggu SMS dari si pria laut. Sampai malam sudah menampakkan diri, tak juga ada SMS darinya. Duduk saja saya di teras rumah. Handphone saya ambil dan mulai mengetik pesan.

”Saat ini saya berkawan erat dg malam. Jgn britau kpd pagi ya. Nanti dia cemburu.”

Sent:

21:36:06

31-05-2008

            Tunggu barang sepuluh dua puluh menit, tak juga pesan saya dibalas. Mungkin dia sedang tidur. Lagi-lagi saya menghibur diri. Saya ke dalam rumah. Menyalakan komputer dan duduk melihat-lihat foto-foto saya dan dia. Rindu merayap ke diri. Kembali saya ambil handphone. Mengetik pesan kepadanya

            ”Blh mengutarakan? Sy sdg ingin mengobrol. Tp sptnya anda sdg sbk. Jd lain x aj. Iya, lain x aj.”

          Sent:

          22:37:50

          31-05-08

            Hampir satu jam saya menunggu tapi tak ada pesan masuk di handphone saya. Mungkin dia sudah tidur. Hhh, penghiburan diri lagi. Cuma ini yang bisa saya lakukan, menghibur diri. Saya lihat lagi foto-foto itu. Tembang Loving You-D’Cinnamons melantun. Saya pandangi sekali lagi sebuah foto yang dia anggap sempurna. Saya dan si pria laut di Candi Borobudur. Sudah puas saya tutup saja. Matikan komputer dan beranjak ke kamar.

Sedang Merasa… .

Sunday, June 1st, 2008

Bus melaju cukup kencang di ruas jalan menuju Semarang.  Dari kaca jendela bus yang tak bening saya lihat sederatan pepohonan. Setiap bagiannya terlihat sekelebat. Hanya sekerjap saja saya melihat sudah berganti dengan sederetan pepohonan yang lain. Segurat jingga dari kisi-kisi pepohonan merayap bias. Tidak menyilaukan mata. Hanya tampak malu-malu. Sebentuk kekaguman mencuat dari mulut saya.

Terlena sejenak saya pada paduan warna-warna alam itu. Begitu sejuk. Seperti ingin menyatu saja rasanya dengan jingganya matahari dan hijaunya pepohonan. Sore dengan guratan jingga itu membawa saya terlempar ke sebuah kamar di sebuah kota kecil. Dan kisah itu melintas lagi di benak saya… .

            Tak usahlah saya cerita panjang lebar tentang kisah saya itu. Saya hanya ingin merasa. Saya merasa terbebaskan. Tak lagi saya dikerangkeng dalam sebuah diktum harus ini atau itu. Tak perlu lagi saya berbohong menyembunyikan sesuatu yang tak disukainya. Tak perlu lagi ada semua itu. Saya bebas!

            Tiba-tiba saya terantuk pada ingatan tentang pengorbanan. Berapa banyak sudah yang sudah saya berikan kepadanya? Seberapa besar penderitaan saya untuk mengakui kekurangannya? Seberapa dalam rasa pengertian saya untuk menerima dia dengan segala kekurangan dan kealpaannya? Dan mengapa saya lakukan semuanya dengan kesadaran (atau ketidaksadaran)? Saya seperti orang yang berasal dari dalam bawah tanah. Keluar tersuruk untuk mencari segarnya udara. Susah benar saya mencapai segantang udara segar. Sampai saya mendapatkannya, kemudian merasakannya. Saya melayang dalam udara. Lama saya terbang dan menari di sana. Hingga kesadaran membawa saya terpuruk lagi ke tanah. Bum! Keras dan menyentak.

            Ah, saya masih berada di atas bus yang melaju cukup kencang. Seorang lain berada di sebelah saya. Ia duduk saja menatap lurus ke depan. Saya memanggilnya. Ia menengok ke arah saya dengan ekspresi wajah tak berubah. Ingin cerita, kata saya. Ceritalah, balasnya. Dan saya sedikit bercerita. Sedikit saja karena saat saya ingin melanjutkan bercerita mata saya sudah tergenang butir-butir air. Tak tahan saya sampai akhirnya air itu menetes. Satu demi satu.

            Saya memalingkan wajah, melihat seberkas jingga di luar sana. Begitu sulitnya saya mencari kebebasan. Padahal manusia dikutuk untuk bebas, kata Albert Camus. Mungkin mencari kebebasan itu perkara yang mudah. Namun, jika pertanyaannya adalah ”bagaimana cara kita memaknai kebebasan?”, itu masalah pelik. Saya telanjur memperhitungkan pengorbanan dan mengkaitkannya dengan kebebasan yang saya peroleh. Dalam hitungan saya pengorbanan besar yang telah saya lakukan dibalas dengan keterbatasan ruang bebas.

            Seorang lain yang berada di sebelah saya itu masih melihat ke arah saya. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin kasihan kepada saya atau malah bingung karena saya menangisi masalah itu. Belum habis saya mereka-reka, lengannya sudah berada di depan wajah saya. Seka saja, katanya. Saya tahu wajah ini memang perlu diseka. Pasti berantakan sekali. Nanti kotor, jawab saya. Ga apa, balasnya. Saya seka sisa-sisa tangis saya di lengan bajunya. Tak ketinggalan ingus juga melekat di sana.

            Seorang lain yang berada di sebelah saya itu memalingkan wajah. Meninggalkan saya untuk menyendiri. Saya terbenam lagi dalam kubangan kesedihan. Mencari jawaban dari pertanyaan, yang sampai sekarang belum saya temukan. Mungkin seminggu lagi, sebulan kemudian, atau setahun berlalu jawaban itu baru saya dapatkan. Saya buang jauh pandangan saya. Warna jingga tak lagi membias. Bus berlari meninggalkan pepohonan. Tinggal saya yang masih melahap kesendirian.