Apakah Pantas?
Tuesday, January 15th, 2008Sore ini saya kesal. Flash disk, sebuah benda kecil penyimpan data, rusak. Barang itu baru saja saya beli seminggu yang lalu di Bandung Electronic Centre (BEC). Waktu itu saya senang karena akhirnya saya bisa menyimpan berbagai data di benda kecil yang berkekuatan dua giga itu. Bayangkan, berbagai data dapat disimpan di sebuah benda kecil. Ini dampak bagus perkembangan teknologi.
Saya memberikan kepercayaan kepada flash disk berwarna oranye itu. Tugas-tugas kuliah, berbagai artikel dari internet, buah pikiran, lagu-lagu kesukaan, semua itu saya simpan di flash disk. Saya simpan benda itu di sebuah tempat pensil yang saya temukan di lemari ibu. Saya bawa dia ke berbagai tempat. Mulai dari rumah paman, perpustakaan, rumah sakit, kembali lagi ke rumah paman, kos sepupu di Depok, tempat fotokopi, warteg pinggir jalan, Taman Ismail Marzuki, sampai di kosan saya. Dia saya perlakukan istimewa. Selalu saya scan antivirus agar ia tak sakit. Saya pegang hati-hati agar ia tak jatuh dari ketinggian berapa pun jaraknya. Saya sayang dia karena ia simpan berbagai data yang telah saya peroleh dan yang telah saya buat dengan segenap jiwa dan raga.
Sampai sore ini, di saat matahari diam-diam pergi ke balik awan, saya masih percaya bahwa dia bisa menjaga berbagai data saya dengan baik. Dan ketika mega berarak hitam datang, saya menemukan ia telah tiada. Ceritanya saya menemani Lusi, kawan kampus saya, menge-print cover tugasnya. Data Lusi ada di flash disk saya. Sampai di rental Pangdam, ternyata flash disk saya tak terbaca. Kala itu saya masih tenang-tenang saja. Saya pikir mungkin karena komputer di rental itu tidak bisa membaca flash disk saya.
Pulanglah kami berdua ke kos saya. Sampai di kamar saya nyalakan komputer. Saya masukkan dia ke port USB. Dan yang terjadi sama halnya dengan kejadian di rental tadi. Flash disk saya tak terbaca. Saya mulai cemas. Lusi bilang kemungkinan besar flash disk saya sudah rusak. Itu dia katakan selesai saya bercerita komputer di rental yang tiba-tiba mati ketika flash disk saya masih terbenam di dalamnya. Kecemasan saya semakin meningkat. Saya teringat akan data-data di dalam flash disk saya. Berbagai tempat yang saya datangai bersama flash disk itu terlintas pula di benak saya. Kepercayaan itu tidak runtuh. Tidak sama sekali. Saya masih terus saja mengutak-atik komputer. Siapa tahu flash disk saya masih bisa terselamatkan. Namun usaha saya membuahkan kesedihan. Ternyata benda itu tak juga membuka. Tak bernyawa.
Saya meradang di kasur. Persetan dengan benda kecil tersebut! Saya butuh data-data saya. Runtuh sudah kepercayaan saya pada flash disk dua giga itu. Sialan juga itu si penjual flash disk yang bilang bahwa flash disk jarang sekali rusak. Oh, mungkin ini flash disk yang masuk kelompok flash disk rusak. Baiklah, saya mencoba memahami keadaan si penjual. Namanya juga mencari uang. Keluarlah kata-kata dahsyat untuk menarik orang agar membeli produknya. Si penjual butuh makan, bukan?
Lantas, siapa yang harus saya salahkan? Pembuat flash disk? Perancang sistem flash disk? Atau pemilik rental yang tidak bisa merawat komputernya? Kesal saya tumpahkan saja di atas bantal. Dinginnya malam jadi saksi. Tanyakan saja padanya kalau bisa. Hampir tiga jam saya membayangkan perjalanan saya dengan flash disk itu. Di waktu itu pula saya mencoba mengingat data apa saja yang lenyap tak berbekas. Sedih.
Kesedihan saya bawa ke pinggir jalan raya. Saya bagi kepada rintik-rintik hujan. Saya berikan pula kepada jaket abu-abu yang menaungi tubuh ini. Saya katakan kepada mereka saya tidak ingin sedih dan kesal hati. Entah mereka dengar atau tidak. Kaki terus melangkah. Setiap langkah saya coba mendamaikan diri saya. Dan sampailah saya pada pertanyaan: pantaskah saya bersedih? Ya, dia memang penyimpan data yang saya beli seharga seratus dua puluh lima ribu rupiah. Dia yang membantu saya mengkristalkan data-data saya. Tetapi ketika dia tak berfungsi lagi mengapa saya harus bersedih? Data masih bisa saya cari. Soal uang itu memang bermasalah. Kalau ada uang saya beli, kalau tak ada pinjam saja kepada Lusi atau kawan lain yang berbaik hati.
Uang bisa dicari. Caranya mungkin saya harus mengurangi jatah uang makan. Atau mengilokan koran yang bertumpuk di kamar kosan. Ini masalah yang tak perlu dipikirkan sampai harus sedih sekali. Bisa gila lama-lama. Jadi tak pantas kalau saya sedih, murung, dan kecewa. Tak pantas. Saya hanya perlu merefleksikan diri untuk bisa belajar menjaga barang dengan lebih baik lagi.
Sepantasnyalah saya sedih, murung, dan kecewa jika kehilangan keluarga, kawan-kawan, mbak di warteg pangdam, ibu di fotokopian depan Alfamart Sayang, istri bapak kosan, bapak penjual rokok, penjaga rental di pertigaan Sayang, dan orang-orang dekat lainnya yang saya jumpai setiap saat. Mereka tak terbeli dengan uang. Berapapun bayarannya.