Para Priyayi-nya Umar Kamar
Tuesday, November 20th, 2007Para priyayi telah menjadi sebuah bagian sejarah yang tidak dapat terpisahkan ketika kita berbicara era pra kemerdekaan. Kelompok ini memiliki kedekatan dengan kekuasaan, kemewahan, dan kehormatan. Dalam bukunya, Para Priyayi, Umar Kayam berhasil menggambarkan kehidupan priyayi dari dekat. Menjadi priyayi adalah sebuah ketidakmustahilan, biarpun ia berasal dari golongan bawah. Segala daya upaya ditumpahkan agar seseorang bisa masuk golongan priyayi. Kegemilangan sebuah keluarga dapat dilihat dari upayanya menjadikan keluarganya atau setidak-tidaknya salah satu dari anggota keluarga menjadi priyayi.
Adalah Lantip, seroang anak penjual tempe keliling di Wanagalih. Di umur yang masih belia, ia dititipkan emboknya di rumah keluarga Sastrodarsono, keluarga priyayi terpandang di kabupaten. Ia sudah dianggap anak di rumah besar tersebut.
Sastrodarsono benar-benar seorang ayah yang bijak dan pamong yang mampu mengayomi warga di sekitarnya. Kebijakan melingkupi Sastrodarsono. Ia bukanlah turunan priyayi. Status priyayi diperolehnya dengan kerja keras yang luar biasa. Pendidikan tinggi menjadi kendaraannya agar masuk sebagai kelompok priyayi.
Bersama istrinya, Ngaisah, Sastrodarsono membangun keluarga priyayi. Sebuah keluarga yang ia identikkan dengan pohon nangka di depan rumahnya sendiri. Baginya, pohon nangka itu menjadi saksi kesempurnaan keluarganya menjadi priyayi. Cabang-cabangnya yang besar memberi arti keturunannya yang juga akan meneruskan perjuangannya untuk mengabdi kepada masyarakat.
Sastrodarsono bukanlah priyayi yang hanya duduk menikmati kemewahan yang dimilikinya. Ia masuk ke pelosok pedesaan, membangun sekolah rakyat, dan memercikkan kebijakan bagi warga sekitar. Ia tanamkan jiwa priyayi yang kuat bagi ketiga anaknya untuk selalu berada di jalan yang benar dengan segenap keteguhan hati sebagai bagian dari masyarakat kecil.
Kehidupan sosialnya amatlah baik. Ia bisa bergaul dengan para priyayi yang lain. Walaupun berbeda pandangan, ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Ia juga memiliki hubungan yang amat baik dengan warga sekitar. Kehidupan keluarganya yang harmonis dibangun atas dasar pendidikannya yang berbasis budaya Jawa. Wedhatama, Wulangreh, dan Tripama tak pernah lupa ia ajarkan kepada ketiga anaknya.
Namun, hidup tidaklah semulus yang diharapkan. Ketiga anaknya yakni Noegroho, Hardojo, dan Soemini punya persoalan hidup masing-masing. Sampai mereka sudah berkeluarga sekali pun, persoalan hidup yang menghadang selalu dibagikan kepada ayah ibunya.
Berbagai masalah menimpa keluarga Sastrodarsono. Tidak hanya masalah anak-anaknya, cucunya yang dilanda masalah pun berhasil dipecahkan Sastrodarsono dengan bantuan dari Lantip. Sebagai anak angkat Noegroho, Lantip selalu menyingsingkan lengan saat keluarga priyayi itu dilanda masalah. Ia menuntaskan semuanya itu dengan segala ketulusan hati dan kebijakan sikap yang dianutnya dari bimbingan Sastrodarsono.
Keharmonisan keluarga Sastrodarsono kental terasa saat mereka berkumpul di kediaman Sastrodarsono. Bukan suasana tenang di desa yang menjadi perekat keluarga besar itu. Ada rasa yang lebih berarti. Rasa kekeluargaan. Keterbukaan. Kebijaksanaan. Cinta kasih. Dibalut tradisi Jawa yang mengatasnamakan kesatuan sebuah keluarga, mereka melebur dalam irama hidup penuh pengorbanan, pengharapan, dan kasih.
Namun, terkadang manusia tidak bisa berharap terlalu besar pada garis hidup yang diberikan Sang Pencipta. Ada saat seorang manusia harus menerima kenyataan bahwa kesatuan sebuah keluarga juga berarti kesatuan untuk rela melepaskan bagian dari sebuah kebulatan itu sendiri.
Tak berlangsung lama setelah kepergian istrinya, Sastrodarsono pun menyusul. Ia seda di “istananya”. Ia menutup mata dikelilingi keluarga besarnya. Ia meninggal dengan penuh senyum kebahagiaan.
Lantiplah orang yang memberikan pidato saat penguburan Sastrodarsono. Di tengah makam, Lantip menuturkan kisah hidup Ndoro Guru Kakungnya dari seorang anak petani kecil menjadi seorang priyayi yang bersahaja. Berikut kutipan Lantip menutup upacara pemakaman Sastrodarsono.
“Adapun warna semangat itu bukanlah terutama warna halus, luwes, elegan, dari filsafat rumit seperti yang banyak disangka orang, bahkan oleh kaum priyayi sendiri. Warna semangat itu adalah warna pengabdian kepada masyarakat banyak, terutama kepada wong cilik, tanpa pamrih kecuali berhasilnya pengabdian itu sendiri. Warna itu adalah warna semangat kerakyatan. Itulah galih yang ingin ditumbuhkan oleh Embah Kangkung dalam keluarga besarnya dalam semangat kerukunan dan persaudaraan.”
Buku ini mengungkapkan kehidupan priyayi dari dekat, dari keluarga batih. Amat menarik mengupas buku ini. Umar Kayam dapat memotret pola pikir keluarga priyayi, kesederhanaan sekaligus kemewahan, dan nilai-nilai hidup orang Jawa.