Cinta Si Pelaut dan Si Realis

Hari ini saya menghabiskan seperempat hari bersama dua kawan. Kami bercerita dengan hati riang. Canda tawa terdengar membahana di kamar saya. Rokok dan teh menjadi saksi sejati pembicaraan kami.

Sama seperti hari-hari yang lalu. Itu lagi yang kami bicarakan. Biasalah, soal percintaan. Tak pernah habis-habisnya. Si kawan monumental bercerita soal sepak terjangnya di dunia cinta para pelaut. Ia melanglang buana dari satu pulau ke pulau lain. Bertemu dengan perempuan yang menarik hatinya. Jatuh cinta, ya. Rasa sayang, itu sudah pasti. Tapi bukan berarti harus memiliki, ujarnya.

Si pejuang cinta yang lain berseloroh soal snek-sneknya dengan perempuan idamannya. Ia bercinta dengan realis, menurut saya. Ditolak si perempuan, ia balas dengan sebuah pengertian. Paham kalau dirinya tidak bisa berdampingan dengan sang perempuan pujaan. Hatinya gundah, pikiran logisnya tetap jalan. Walaupun ia mengaku sering seranjang dengan kegelisahan, ia selalu bertahan. Ia punya taktik sendiri untuk mengakali sang perempuan pujaan.

Kedua kawan saya itu berada di jalur percintaan masing-masing. Punya moto sendiri-sendiri. Punya strategi percintaan yang berani.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

-Sapardi Djoko Damono-

Sesudah pembicaraan usai dan mereka pulang, saya tersenyum sendiri. Cinta memang istimewa. Ia punya ciri khas yang sulit didefinisikan dengan kata-kata. Saya bisa merasakan perasaan kedua kawan saya itu. Namun, sulit bagi saya untuk menyatakannya dengan kata-kata.

Saya tidak mau terjebak pada pendefinisian cinta dengan kata-kata sebagai pagarnya. Saya mau merasakan kenikmatannya lewat cerita kawan-kawan saya itu. Lagi-lagi saya tersenyum saat mengetik tulisan ini. Ingat kisah cinta mereka. Sederhana dan indah.

3 Responses to “Cinta Si Pelaut dan Si Realis”

  1. deno Says:

    tapi sekarang sudah punya kisah cinta kan?hahahaha…brapa banyak?ratusan….hahaha

  2. mila nasution Says:

    spanjang hidup saya, kisah cinta saya pelautlah yang paling membinggungkan semua sahabatku.kami saling mencintai walau kami jarang ketemu.paling cepat 1 tahun sekali.aneh tapi nyata hidup dalam kesepian dan sendiri

  3. mila nasution Says:

    kesendirian dan kesepian menjadi pacar pelaut adalah tantangan yang paling terberat.apa lagi disaat-saat perasaan rindu itu timbul dg sendirinya

Leave a Reply