Fontamara. Sebuah buku yang hampir luput dari perhatianku. Ia berada di tumpukan peralatan menjahit ibuku. Tanpa basa-basi, kuambil dan kubuka. Kucari tempat nyaman untuk membuka satu dua lembaran novel Fontamara. Kutemukan tempat itu: di depan pintu rumah. Aku tidak sendirian. Ada semilir angin yang tengah berlari dikejar teriknya matahari. Ada tiga empat kuntum bunga sepatu yang jelita. Tak lupa, anjing tua yang sedang tidur siang.
Adalah sekelompok cafoni (petani miskin yang membuat lahan produktif) berdiam di desa Fontamara, sebuah desa di Italia Selatan. Hanya segelintir cafoni yang punya sedikit tanah. Kalau di Rusia, petani disebut mujik. Desa itu berada di pegunungan. Tanahnya hanya cocok ditanami jagung dan anggur. Penduduk di sana miskin. Kerapkali mereka makan kulit roti dengan bawang.
Mereka miskin bukan karena malas. Bukan. Sekali lagi bukan. Kemiskinan melanda mereka karena tatanan masyarakat saat itu. Ada yang rakus kekuasaan. Terdapat pula pemilik tanah yang mengeruk banyak keuntungan. Pemilik tanah menggenjot petani dengan upah amat rendah. Ditambah pula pemerintah bertindak keji dengan membuat undang-undang pajak yang mengurangi pendapatan petani.
Awalnya mereka ditipu untuk menandatangani petisi. Isinya sumber air Fontamara akan dialirkan ke kota. Petisi dibawa ke pemerintah kota. Tak berapa lama kemudian, jadilah aliran air dari Fontamara ke kota.
Lantas, bagaimana nasib penduduk Fontamara? Mereka semakin miskin. Ladang mereka tidak memberikan hasil karena tidak dialiri air. Protes penduduk Fontamara pun bermunculan. Tapi apalah arti teriakan rakyat ketika fasisme merajalela? Teriakan itu hanya membuahkan penyiksaan. Pemerkosaan. Pelabelan identitas - dari pengkhianat sampai sosialis, dari konstitusionalis sampai komunis. Kegilaan. Banjir darah. Dan pada akhirnya semua habis tak bersisa. Tak ada lagi penduduk Fontamara. Tak ada lagi bar kecil dengan orang-orang yang senang berdiskusi. Tak ada lagi para cafoni yang pergi ke ladang menjemput mentari yang baru datang. Tak ada lagi lonceng gereja berdentangan. Tak ada lagi kehidupan.
Semuanya dilukiskan Ignasio Silone dengan empat perspektif penceritaan. Dirinya dan sebuah keluarga Fontamara yang selamat – ayah, ibu, dan anak.
“Biarkan setiap orang mempunyai hak untuk menceritakan kisah dengan caranya sendiri.”
Gayaberceritanya satir. Kesengsaraan penduduk Silone digambarkannya dengan selipan kelucuan. Kegelian yang menyedihkan.
Ignasio Silone adalah nama pena Secondo Tranquilli. Sebelum menjadi penulis, ia aktif di keanggotaan Italian Socialist Party. Selanjutnya, bergiat di Italian Communist Party. Ia bersuara lantang menantang fasisme. Saat itu kekuasaan di Italia bergaya fasis. Alhasil, ia diasingkan ke Swiss. Di sana ia menderita TBC dan depresi. Beres dari penyakitnya, ia menulis novel Fontamara.
Novel berikutnya adalah Bread and Wine. Selanjutnya A Handfull of Blackberries dan The Secret of Luca. Keempat isi novel itu tidak terputus. Saling menyambung.
“Sekiranya kumiliki kekuasaan untuk mengubah hukum niaga dari masyarakat sastra, mungkin kuhabiskan hidupku dengan terus-menerus menulis dan menulis kembali kisah yang sama dengan harapan akhirnya memahaminya dan membuatnya dipahami, persis seperti rahib di Abad Pertengahan yang menghabiskan seluruh hidup mereka dengan melukis dan melukis kembali wajah Juru Selamat, selalu wajah yang sama, namun selalu berbeda.”
Pemaknaan terhadap kisah-kisah yang ditulisnya membawa Silone kepada penghargaan Jerusalem Prize, sebuah penghargaan yang diberikan kepada penulis yang memperjuangkan kemanusiaan.
Selesai menghabiskan lembaran terakhir novel Fontamara, saya merebahkan diri di kasur yang tak empuk lagi. Menengadah melihat langit-langit kamar. Berpikir sedikit. Gerak sejarah terus berulang. Kisah penindasan kemanusiaan terjadi di mana pun.
Di Indonesia? Jangan ditanya. Sudah langganan. Dari pemberangusan orang-orang yang dianggap PKI, peristiwa Santa Cruz di Timor-timur, penembakan misterius di Poso, sampai tragedi Trisakti dan Semanggi. Belum lagi pelbagai peristiwa kecil yang tidak diekspos media massa sehingga kurang atau bahkan tidak diketahui masyarakat. Semisal, penderitaan orang Papua pedalaman menyaksikan gunung “ibu bumi” nya digerus Freeport.
Kisah-kisah penindasan kemanusiaan perlu dibakukan dalam tulisan. Supaya kita tidak pernah lupa. Supaya kita sadar bahwa ada yang harus diubah. Dan itu yang dilakukan Ignazio Silone. Angkat topi baginya, si pejuang kemanusiaan.
Jakarta di malam Idul Fitri 1428 H