Lima puluh enam hari lamanya saya berada di Desa Cibogo Hilir, Plered, Purwakarta, Jawa Barat. KKN alias Kuliah Kerja Nyata selama itu memberi pelajaran yang amat berharga. Mungkin karena terlalu berharganya, sampai detik ini pun ingin rasanya menginjakkan kaki di desa itu lagi.
Bersama 19 teman lain saya merasakan kehidupan di pedesaan, walaupun masih terbawa juga gaya hidup kota. Bayangkan, senang rasanya berkumpul, bercerita, dan bermain setiap hari dengan anak-anak SD. Setelah mereka pulang belajar di TPA dan mengaji, suara-suara anak kecil pasti hinggap di rumah.
Mereka berceloteh panjang lebar soal kesibukan di sekolah, bercerita tentang Si Pohang (video lucu berbahasa Sunda), bertanya ini itu, berloncatan ke sana ke mari, sampai ikut main kartu uno. Kalau bercerita mereka berebutan ingin ceritanya didengar. Saya sampai pusing kepala jika mereka bercerita tanpa henti dengan suara besar nan nyaring.
Ada satu anak bernama Ujang. Masih kelas satu SD. Pekerjaannya setiap hari hanyalah mendata teman-teman KKN yang ada di rumah.
“Kak Oca ada? Om Rimbun pergi ke mana? Om Blake main bola ya? Teh Ata di kamar? Kalo Kak Tia ke mana?”
Bocah itu selalu ingin tahu. Ada lagi bocah bernama Roni. Dia anak kelas enam SD berumur 15 tahun. Sudah empat kali dia tidak naik kelas. Malas kata gurunya. Tidak seperti anak berumur 15 tahun, ia bertubuh pendek seolah masih berumur 10 tahun. Ciri khas Roni giginya agak nongol. Walaupun dia pernah berusaha sekuat mungkin untuk mengatupkan bibirnya, tetap saja giginya terlihat. Dia lucu. Amat lucu. Dengan bangganya dia pernah bercerita.
“Saya udah punya pacar. Pacar saya cantik, naik motor Mio. Dia naik motor ke mana-mana, kalau saya mah naik sepeda. Saya pernah kasih surat cinta ke dia tapi dia tolak cinta saya.”
Kami semua yang mendengar ceritanya tertawa.
“Jadi bukan pacar dong namanya. Kan sudah ditolak,” celetuk kawan saya.
Hahaha…semua tertawa lagi. Namun, semangatnya tidaklah surut. Ia keluarkan dompet dari sakunya dan menunjukkan foto “pacar”nya itu.
Lain lagi dengan Dede. Dia kelas tiga SD, kawan karib Ujang. Pernah dia memetik bunga kamboja di pinggir rel kereta api dan memberikannya ke beberapa teman perempuan KKN.
Ada satu bunga yang disemprotkan parfum milik bapaknya yang lurah itu. Diberikannyalah bunga harum itu kepada teman saya.
“So sweet,” kata teman saya.
Sudah tidak heran lagi rumah kontrakan saya dan teman-teman jadi sarang bermain anak-anak kecil. Dalam satu hari, mereka bisa main dari jam 2 siang sampai jam 9 malam. Sampai-sampai kalau pulang malam beberapa orang tua menjemput mereka di depan rumah. Sekali waktu pernah kami ngeliwet bersama.
Menunya sederhana. Hanya nasi, tahu goreng, ikan asin, dan sambal. Kami semua berkumpul mengelilingi makanan yang tersaji di atas daun pisang panjang. Kami makan sambil bercerita dan tertawa-tawa. Tidak ada identitas mahasiswa atau anak SD. Tidak ada identitas orang kota dan orang desa. Semua melebur menjadi sekumpulan kawan akrab.
Sepakbola menjadi permainan yang membuat kami dan teman-teman kecil kami bersatu. Siang dan malam hari, sepetak lapang di sebelah rumah selalu ramai. Tiada hari aktivitas kami tanpa teman-teman kecil itu. Sebuah bola berwarna emas menjadi benda kenang-kenangan yang kami berikan kepada mereka.
Sampailah di hari terakhir kami harus berpisah. Mereka ada di rumah sejak pagi. Mereka ribut minta kenang-kenangan. Kalau orang lain memberikan kenang-kenangan, kami lain cerita. Tanpa basa-basi mereka ambil barang di rumah. Barang apa saja yang masih tergeletak di setiap sudut rumah mereka angkut. Dari karet gelang, kertas materi program, sandal jepit, sendok, gunting kuku sampai autan dijadikan barang kenangan.
“Ga sekalian tivi dan bangku di depan diangkut juga?” tanya saya.
”Hah, bener nih, kak tivi juga boleh?” ujar seorang bocah dengan mimik serius.
Saya pun cuma geleng-geleng kepala. Oow, bisa-bisanya…. .
Sebelum pulang ke Bandung kami diundang makan di rumah salah seorang warga. Selesai makan, kami pulang ke rumah kontrakan dengan perut kekenyangan dan niat mengambil barang-barang yang sudah dipak. Kami terpaku di depan pintu rumah. Di pintu tertempel karton-karton kecil berbentuk huruf:
“I LOVE KKN UNPAD. JANGAN PU”
Kami tercekat. Diam. Terpaku. Bocah-bocah kecil itu berdiri di dekat kami. Saya membaca ulang kalimat itu dalam hati: “I love KKN Unpad. Jangan pulang”.
Tiba-tiba saya menyadari mereka amat sedih dengan kepergian kami. Mereka amat merasa kehilangan kami. Hampir saya menangis.
Namun, karena terlihat tidak ingin menangis saya menengadahkan kepala. Menahan air mata. Setelah tersadar dari sihir kalimat itu, kami masuk rumah untuk mengambil barang. Beberapa teman siap menaiki motornya.
Di depan rumah, bocah-bocah itu berdiri dengan wajah sedih. Saya dan teman-teman sudah duduk di atas motor. Pastinya dengan barang bawaan banyak dan berukuran besar. Kami pamit. Mereka menangis. Motor pun dijalankan. Sekali saya menengok ke belakang. Mereka masih menangis. Saya pun ikut menangis.