Archive for April, 2007

Segoro Wedi: Sebuah Kenangan

Thursday, April 12th, 2007

Aku ingin kembali ke sana. Menapaki jejak kembali di tanah berbatu kecil dan besar. Ingin lagi merasakan hembusan malam yang menusuk tulang. Bertiga bersama di tengah rimba. Napas memburu. Denyut jantung seolah terdengar bertalu-talu menandakan kami harus sejenak beristirahat. Tapi yang kami lakukan hanyalah memburu pagi, meninggalkan malam yang ternyata berujung sunyi. Terus mendaki tanpa bersuara. Sampailah kami di sana. Di puncak Gunung Slamet, Segoro Wedi.

Aaahhh, mentari terbit rupanya. Mengirimkan pesan selamat pagi kepada angin yang kemudian membisikkannya kepada kami. Batu besar di sana menjadi saksinya. Bukan rasa menang yang terasa. Bukan. Bukan pula rasa bangga yang meliputi diri. Ada rasa tidak berarti yang meliuk-liuk dalam hati.
Ya, aku merasa kecil melihat hadiahNya. Hadiah yang diberikan setiap hari tapi tak pernah disyukuri. Kado istimewa yang jarang diingat manusia, termasuk diriku.

Di sebelah mentari yang masih malu-malu, berdiri kokoh puncak Sundoro dan Sumbing. Indah sekali…
Kuingin merengkuh awan yang berarak kian kemari seperti kembang gula menari. Ingin kuambil, kugigit, dan kuhisap manisnya. Tapi sekali lagi aku merasa tak berdaya, lemah, kecil. Kecil seperti tuma, tidak sebesar alam raya. Kutarik napas dalam-dalam lantas kuhela kembali angin segar Segoro Wedi Tak terasa lelahnya diri. Yang ada hanyalah rasa syukur tiada henti. Segoro Wedi, terima kasih. Kau sadarkan aku dari lupa diri.

Menyontek. Tanya Kenapa…?

Tuesday, April 10th, 2007

Saat Ujian Tengah Semester (UTS) berlangsung, seorang dosen menghampiri mahasiswanya. Sang dosen berdiri di depan mahasiswa yang tengah serius mengerjakan soal-soal ujian. Tiba-tiba sang dosen mengambil secarik kertas di balik lembaran jawaban mahasiswa. Kertas itu dibaca sebentar oleh dosen lantas dirobeknya. Semua mahasiswa dalam kelas terperangah. Sang dosen berlalu.

Ia menghampiri mahasiswa lain, yang berada di depan mahasiswa yang barusan dihampirinya. Sama seperti yang dilakukan pada mahasiswa sebelumnya, sang dosen mengambil kertas di balik lembaran ujian mahasiswa itu. Ternyata kertas yang diambilnya itu tidak selembar, tetapi berlembar-lembar. Bentuknya ramping dan sangat panjang. Mahasiswa dalam kelas semakin terperangah. Sang dosen merobek kertas itu dan melemparkannya ke lantai tengah kelas. Wajahnya tegang. Dahinya berkerut.

Saya tercengang. Konsentrasi mengerjakan soal ujian menjadi turun. Saya memikirkan alasan teman-teman saya yang menyontek. Ke luar kelas, saya bertemu dua kawan. Kami memperbincangkan soal menyontek itu. Teman saya mengatakan “ya tak apalah mahasiswa menyontek.” Sedangkan kawan satunya lagi bilang “mereka menyontek karena terasing. Mereka tidak mencintai pekerjaannya. Mereka tidak mencintai kuliah.” “Gue dan lo ga cinta kuliah. Kita malas-masalan kuliah, tapi kita ga nyontek. Jadi terasing bukan alasan yang tepat.” Saya menimpali.

Si pelaku beralasan ia melihat teman-teman yang berada di depannya menyontek, maka ia pun berperilaku seperti itu. Hah, itu bukan alasan yang tepat. Kok bisa contekan sudah ada di balik kertas ujiannya? Itu berarti ia sudah mempersiapkan contekan sebelum mengikuti ujian. Itu berarti pula ia sadar akan tindakannya.

Menyontek masalah integritas diri. Itu simpulan yang saya dapat ketika berdebat panjang dengan teman satu kosan. Kami membicarakan alasan seseorang menyontek. Garis besar perbincangan itu begini:

Pertama, Mengapa seseorang menyontek? Mungkin ia tidak siap mengikuti ujian. Mengapa tidak siap? Karena ia tidak belajar sebelumnya.

Kedua, mengapa seseorang menyontek? Karena ingin mendapatkan nilai bagus. Mengapa ingin mendapatkan nilai bagus? Karena ingin memiliki IPK tinggi, ingin dicap pintar, atau tuntutan orang tua.

Ketiga, mengapa seseorang menyontek? Karena nilai buruk tindakan menyontek rendah, tindakan itu bukan masalah besar, bukan hal yang salah. Mengapa ia menilai seperti itu, sedangkan saya menilai tindakan menyontek sebagai tindakan bernilai buruk, masalah besar, tindakan yang salah? Ini kembali pada pandangan setiap orang. Pandangan nilai itu baik atau buruk, besar atau kecil, benar atau salah dibentuk karena faktor lingkungan misalnya lingkungan sekolahnya dulu atau lingkungan keluarga.

Pembentukan itu berasal dari lingkungan tempat kita berasal atau lingkungan  berinteraksi dengan orang lain. Dengan pengalaman yang berbeda, setiap orang punya pandangan berbeda pula dalam menilai suatu tindakan. Penilaian pada tindakan berdasarkan norma moral seseorang. Menurut Franz von Magnis (saya baru membaca bukunya J) norma moral muncul sebagai suatu kekuatan yang amat besar dalam hidup manusia. Atas dasar norma moral, orang mengambil sikap dalam suatu kesadaran.

Bagi saya, ini masalah kesadaran diri. Masalah etika. Masalah integritas diri. Menyontek sama halnya dengan membohongi dan membodohi diri sendiri.

saya dan teman-teman

Monday, April 2nd, 2007

awalnya sekadar berkumpul untuk bertukar pikiran. boleh dikatakan diskusi kecil dengan tema sederhana. diskusi kecil tersebut juga menjadi wadah bagi saya dan teman-teman untuk saling mengenal satu sama lain, dari lontaran lelucon sampai curahan hati di malam hari menjelang pagi.

saya menyadari kami berasal dari berbagai latar belakang, ciri khas, sifat, dan lain-lain. uniknya, hal-hal tersebut tidak melebur, namun saling melengkapi. kelebihan dari teman A dibagikan kepada teman B. kekurangan teman C ditutupi oleh teman D.

intinya, saling melengkapi.

kami hanya punya satu modal yakni rasa persaudaraan.