!

August 18th, 2008 by akucintabumi

Ini hidup saya

Jangan diganggu gugat!

Rindu Inkud

July 9th, 2008 by akucintabumi

Inkud. Saya rindu padanya. Sungguh.

Bila malam telah menggelayut, saya tak takut membiarkan jendela kamar saya terbuka. Saya senang bila hembusan angin malam menyapa. Walaupun seharusnya saya takut karena, katanya, ada hantu yang berkeliaran di depan jendela kamar saya. Tak peduli.

            Kamar saya berukuran 3 x 3 meter. Cukup untuk menampung sebuah tempat tidur, dua meja, sebuah lemari dengan rak panjangnya dan sedikit lantai tempat duduk. Semuanya tak tertata rapi. Saya akui. Tapi saya suka segala keberantakan itu.

            Di kamar itu saya habiskan sang waktu. Pulang kuliah saya nyalakan komputer dan memilih file-file untuk kerjakan tugas kuliah. Soal tugas kuliah, ini yang paling menyita hidup saya. Ada-ada saja tugas di jurusan jurnalistik, kampus saya itu. Ada tugas menganalisis berita, buat program radio, analisis SWOT, buat artikel, riset kecil. Macam-macamlah.

Beruntung di komputer saya ada program Winamp. Jadi saya bisa mendengarkan musik dari program itu. Beberapa lagu kerapkali saya putar untuk mendampingi saya membuat tugas. Tak usah saya sebutkan satu per satu. Hanya saja saya ingin mengucapkan terimakasih buat D’Cinnamons, Dewa 19, Sore, Anggun, Rastafara. Merekalah yang menemani saya membuat tugas.

            Kalau sudah merasa penat di depan layar komputer, saya putar badan. Ambil gelas, tuangkan kopi dan seduh dengan air panas. Aduk sebentar baru saya bubuhkan gula. Menurut kawan saya yang suka minum kopi, akan lebih baik menuangkan gula setelah kopi larut dengan air panas. Tujuannya supaya kopi lebih sedap dicecap. Saya ikuti resepnya dan memang benar demikian.

            Kopi siap, tak lupa sebatang rokok dinyalakan. Saya duduk di pinggir jendela dan mulai menikmati kedua kawan saya, si kopi dan si rokok. Suka sekali saya kalau langit yang tengah memajang diri warnaya sudah kemerahan. Pertanda akan senja. Saya hanya dapat sepetak langit kemerahan tanpa tuan senjanya sendiri. Kos sebelah saya berdiri terlalu tinggi sehingga menutupi matahari yang bermetamorfosis menjadi senja. Tapi tak apalah. Saya sudah terlalu suka dengan semua yang tersaji. Sederhana dan menyenangkan.

            Saya masih melek walaupun malam sudah tua. Biasanya saya mengobrol dengan kawan kos atau kawan kuliah.  Kalau tidak mengobrol saya benamkan diri dalam bacaan. Jika uang cukup banyak saya melangkahkan kaki ke warnet Imago untuk membuka website ini itu, situs ini itu, unduh informasi ini itu, dan friendster. Sekitar jam tigaan baru terasa mata ini lelah. Saat itulah saya kembali ke kamar dan membaringkan diri di kasur, tidur.

Itu sekelumit aktivitas saya di kos Inkud. Semuanya biasa-biasa saja. Akan tak biasa-biasa saja bila kawan-kawan saya datang. Kami bercerita panjang lebar. Apa saja dibicarakan. Dosen, tugas kuliah, teman kampus, ibu kantin, gebetan baru, banyak lagi. Cerita kami selalu berselang-seling dengan tawa. Sebuah tawa yang pasti mengganggu penghuni kos lainnya. Namun, sejauh ini belum ada pengaduan. Jadi, tawa kami masih bebas, belum dibatasi. Hampir saban malam saya ditemani kawan-kawan kampus. Kamar saya ramai selalu.

            Astaga! Ini yang menjadi bahan kerinduan saya. Ya, benar! Saya mengerti mengapa saya rindu Jatinangor dan kos Inkud. Ada kenangan di sana. Kenangan waktu saya sendirian di kamar. Dan kenangan saat saya ditemani kawan-kawan saya. Ada kesendirian dan kebersamaan. Ada kesenyapan dan kegegapgempitaan. Ada kesatuan. Ya, benar! Itu yang saya rindukan.

             Ingin rasanya saya habiskan bulan Juli ini sesegera mungkin. Biar saya kembali ke Jatinangor dan injakkan kaki di kos Inkud. Mengajak kawan-kawan merayakan kebersamaan. Menertawakan segala kebodohan dan kepintaran kami. Menertawakan kenaifan kami masuk jurnalistik. Tertawa dan terus tertawa, sampai lunglai.

putri cina

June 16th, 2008 by akucintabumi


Judul buku: Putri Cina
Penulis  :
Sindhunata
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007
Tebal : 304 halaman
Siapakah saya?
Mengapa saya ada? Darimana saya? Mengapa saya bernama Putri Cina?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus menghantui Putri Cina. Jikalau manusia
adalah debu yang diterbangkan entah ke mana, mengapa Putri Cina disebut Cina?
Dan mengapa dirinya berada di tanah Jawa?


Pertanyaan-pertanyaan
soal esensi diri membuat Putri Cina terlempar dalam berbagai peristiwa. Ia
berada di beragam keterikatan ruang dan waktu. Sindhunata memulai
penceritaannya dari babad Tanah Jawa. “Sesungguhnya sejarah hanya berulang. Apa
yang akan terjadi kelak, telah terjadi sekarang. Dan apa yang terjadi sekarang,
telah terjadi dulu.” Ucapan ini mengawali penceritaan mengenai riwayat
pertikaian di Tanah Jawa. Pertengkaran antara Kurawa dan Pandawa memunculkan
Perang Baratayudha, sebuah perang saudara dalam perebutan kekuasaan.

Pertumpahan darah
juga mengenai orang-orang Cina di Tanah Jawa. Pada 1740 orang-orang Cina
dibantai di Batavia oleh Belanda karena Belanda tidak tenang melihat gejolak ekonomi orang Cina
meningkat. Di masa itu terjadilah pembantaian massal orang Cina. Semua rumah
dan toko milik orang Cina dijarah dan dibakar habis. Pada 1946 orang-orang Cina
yang bermukim di sebelah barat sungai Tangerang dibunuh. Tahun berikutnya politioneel actie dilancarkan Belanda.
Penjarahan, perampokan, perkosaan, dan pembunuhan terhadap orang Cina terjadi.

Pada 1948 sekitar
1.500 orang Cina dibantai oleh sebuah laskar rakyat terkenal di Jawa Timur.
Peristiwa pertumpahan darah orang Cina di Indonesia berujung pada Mei 1998.
Banyak rumah dan toko orang Cina dijarah. Perempuan-perempuan Cina diperkosa.
Akibat peristiwa itu banyak dari mereka yang tak waras lagi atau melarikan diri
dari Indonesia.



Putri Cina pun
mengada di Negara Pedang Kemulan. Ia menjadi Giok Tien, istri Senopati Gurdo
Paksi. Lagi-lagi karena haus kekuasaan dan nafsu cinta, pertumpahan darah
terjadi di negara itu. Giok Tien kembali mempertanyakan dirinya yang berada di
tengah-tengah pertikaian. Apakah ia salah menjadi perempuan Cina yang bermukim
di Jawa? Mengapa kehidupannya harus dirundung kekerasan?

Giok Tien semakin
merasa tak berdaya menemukan hakikat hidupnya. Pelipur laranya hanyalah mencintai
dan dicintai Gurdo Paksi. Mereka berdua mati dan menjadi sepasang kupu-kupu
cantik. Giok Tien memang sudah mati, tetapi tidak bagi Putri Cina. Ia terus
mengeksistensikan dirinya untuk mengetahui esensi keberadaannya. Proses
memaknai segala identitas, hakikat hidup, asal-muasal, dan tujuan hidup begitu
panjang dan melelahkan. Akhirnya hanya pengharapan yang tersisa, yang terwujud
dalam permata-permata Suinli. Harapan untuk mendapatkan pengampunan yang
melingkar dalam cinta dan belas kasihan. Dan harapan itu menjadi harapan
anak-anak Cina untuk terus menyempurnakan keberadaan mereka.

Sindhunata
mengajak kita untuk menelusuri eksistensialisme Putri Cina dengan meminjam
kisah-kisah bersejarah. Ia meletakkan Putri Cina dalam keterbatasan waktu dan
ruang. Ia memorakporandakan identitas perempuan Cina untuk menemukan esensi
mereka yang sebenarnya. Sindhunata tak menutup mata melihat kondisi bangsa ini
yang masih mempermasalahkan identitas orang-orang Cina. Di saat damai memang
tak ada yang patut dipersalahkan. Namun perlu ada obyek yang dijadikan kambing
hitam ketika suasana perdamaian tak lagi ada. Dan ketika kita mau menengok lagi
ke dalam kubangan sejarah, maka orang-orang Cinalah yang menjadi korban guyuran
kesalahan dan penghinaan.


Novel ini seolah
menemani kita untuk kembali merefleksikan keberadaan orang-orang Cina yang
sudah terlalu banyak ditimpa identitas negatif. Kisah Putri Cina menghampiri
kita untuk mempertanyakan lagi keberadaan manusia, terlepas dari identitas saya
adalah orang Jawa, Sumatra, Cina, India, dan sebagainya. Semua manusia adalah saudara. Kita mengada untuk mencari esensi
diri masing-masing. Maka, tak perlu lagi ada persoalan mempertanyakan identitas
yang satu dengan yang lain. Apalagi sampai berujung pada kekerasan dan
pertumpahan darah.

 

 

SMS Tak Berbalas

June 1st, 2008 by akucintabumi

Hari ini saya hanya di rumah. Makan, beberes rumah, nonton televisi, tidur siang, membaca koran. Bukan rutinitas saya. Karena saya di rumah maka saya bisa melakukan semua ini. Berbeda bila saya berada di Jatinangor.

            Ada suatu waktu saya mengirim sms kepada si pria laut:
            
”di Trans ada great wall. Whuw!”

          Sent:

          10:51:21

          31-05-2008

            Saat itu saya sedang menonton acara jalan-jalan dari sebuah stasiun televisi swasta. Sponsor acara itu Simpati. Indy dan Bekti yang jadi presenternya, ditambah seorang bintang tamu yang saya lupa namanya. Mereka berwisata ke tembok besar Cina. Ini tempat yang menjadi bahan pembicaraan saya dengan si pria laut saat kami menjejakkan kaki di Candi Borobudur.

Dia kagum dengan megahnya candi yang dibangun pada masa wangsa Syailendra itu. Saya membantahnya. Boleh-boleh saja kagum, tetapi di balik kekaguman itu harus disadari begitu banyak darah dan keringat yang membangunnya. Sama halnya dengan tembok besar Cina. Menikmati megah dan besarnya tembok itu tak boleh dilupakan berapa ribu orang yang mati kelaparan karena bekerja siang malam membangun tembok itu.

            SMS saya ternyata tak berbalas. Mungkin dia sedang sibuk. Saya menghibur diri dengan keyakinan itu. Selepas tidur siang saya bangun dan melihat handphone. Hanya ada sebuah sms. Isinya tentang tugas kuliah. Tidak menariklah. Saya sedang menunggu SMS dari si pria laut. Sampai malam sudah menampakkan diri, tak juga ada SMS darinya. Duduk saja saya di teras rumah. Handphone saya ambil dan mulai mengetik pesan.

”Saat ini saya berkawan erat dg malam. Jgn britau kpd pagi ya. Nanti dia cemburu.”

Sent:

21:36:06

31-05-2008

            Tunggu barang sepuluh dua puluh menit, tak juga pesan saya dibalas. Mungkin dia sedang tidur. Lagi-lagi saya menghibur diri. Saya ke dalam rumah. Menyalakan komputer dan duduk melihat-lihat foto-foto saya dan dia. Rindu merayap ke diri. Kembali saya ambil handphone. Mengetik pesan kepadanya

            ”Blh mengutarakan? Sy sdg ingin mengobrol. Tp sptnya anda sdg sbk. Jd lain x aj. Iya, lain x aj.”

          Sent:

          22:37:50

          31-05-08

            Hampir satu jam saya menunggu tapi tak ada pesan masuk di handphone saya. Mungkin dia sudah tidur. Hhh, penghiburan diri lagi. Cuma ini yang bisa saya lakukan, menghibur diri. Saya lihat lagi foto-foto itu. Tembang Loving You-D’Cinnamons melantun. Saya pandangi sekali lagi sebuah foto yang dia anggap sempurna. Saya dan si pria laut di Candi Borobudur. Sudah puas saya tutup saja. Matikan komputer dan beranjak ke kamar.

Sedang Merasa… .

June 1st, 2008 by akucintabumi

Bus melaju cukup kencang di ruas jalan menuju Semarang.  Dari kaca jendela bus yang tak bening saya lihat sederatan pepohonan. Setiap bagiannya terlihat sekelebat. Hanya sekerjap saja saya melihat sudah berganti dengan sederetan pepohonan yang lain. Segurat jingga dari kisi-kisi pepohonan merayap bias. Tidak menyilaukan mata. Hanya tampak malu-malu. Sebentuk kekaguman mencuat dari mulut saya.

Terlena sejenak saya pada paduan warna-warna alam itu. Begitu sejuk. Seperti ingin menyatu saja rasanya dengan jingganya matahari dan hijaunya pepohonan. Sore dengan guratan jingga itu membawa saya terlempar ke sebuah kamar di sebuah kota kecil. Dan kisah itu melintas lagi di benak saya… .

            Tak usahlah saya cerita panjang lebar tentang kisah saya itu. Saya hanya ingin merasa. Saya merasa terbebaskan. Tak lagi saya dikerangkeng dalam sebuah diktum harus ini atau itu. Tak perlu lagi saya berbohong menyembunyikan sesuatu yang tak disukainya. Tak perlu lagi ada semua itu. Saya bebas!

            Tiba-tiba saya terantuk pada ingatan tentang pengorbanan. Berapa banyak sudah yang sudah saya berikan kepadanya? Seberapa besar penderitaan saya untuk mengakui kekurangannya? Seberapa dalam rasa pengertian saya untuk menerima dia dengan segala kekurangan dan kealpaannya? Dan mengapa saya lakukan semuanya dengan kesadaran (atau ketidaksadaran)? Saya seperti orang yang berasal dari dalam bawah tanah. Keluar tersuruk untuk mencari segarnya udara. Susah benar saya mencapai segantang udara segar. Sampai saya mendapatkannya, kemudian merasakannya. Saya melayang dalam udara. Lama saya terbang dan menari di sana. Hingga kesadaran membawa saya terpuruk lagi ke tanah. Bum! Keras dan menyentak.

            Ah, saya masih berada di atas bus yang melaju cukup kencang. Seorang lain berada di sebelah saya. Ia duduk saja menatap lurus ke depan. Saya memanggilnya. Ia menengok ke arah saya dengan ekspresi wajah tak berubah. Ingin cerita, kata saya. Ceritalah, balasnya. Dan saya sedikit bercerita. Sedikit saja karena saat saya ingin melanjutkan bercerita mata saya sudah tergenang butir-butir air. Tak tahan saya sampai akhirnya air itu menetes. Satu demi satu.

            Saya memalingkan wajah, melihat seberkas jingga di luar sana. Begitu sulitnya saya mencari kebebasan. Padahal manusia dikutuk untuk bebas, kata Albert Camus. Mungkin mencari kebebasan itu perkara yang mudah. Namun, jika pertanyaannya adalah ”bagaimana cara kita memaknai kebebasan?”, itu masalah pelik. Saya telanjur memperhitungkan pengorbanan dan mengkaitkannya dengan kebebasan yang saya peroleh. Dalam hitungan saya pengorbanan besar yang telah saya lakukan dibalas dengan keterbatasan ruang bebas.

            Seorang lain yang berada di sebelah saya itu masih melihat ke arah saya. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin kasihan kepada saya atau malah bingung karena saya menangisi masalah itu. Belum habis saya mereka-reka, lengannya sudah berada di depan wajah saya. Seka saja, katanya. Saya tahu wajah ini memang perlu diseka. Pasti berantakan sekali. Nanti kotor, jawab saya. Ga apa, balasnya. Saya seka sisa-sisa tangis saya di lengan bajunya. Tak ketinggalan ingus juga melekat di sana.

            Seorang lain yang berada di sebelah saya itu memalingkan wajah. Meninggalkan saya untuk menyendiri. Saya terbenam lagi dalam kubangan kesedihan. Mencari jawaban dari pertanyaan, yang sampai sekarang belum saya temukan. Mungkin seminggu lagi, sebulan kemudian, atau setahun berlalu jawaban itu baru saya dapatkan. Saya buang jauh pandangan saya. Warna jingga tak lagi membias. Bus berlari meninggalkan pepohonan. Tinggal saya yang masih melahap kesendirian.

Gadis Pantai

May 27th, 2008 by akucintabumi

Manusia punya kebebasannya masing-masing. Kebebasan tersebut ditandai akan tindakan-tindakan dalam hidupnya yang ia lakukan dengan penuh kesadaran dan kenikmatan. Buku bertajuk Gadis Pantai yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ini berbicara soal perjuangan memperoleh kebebasan tersebut.

Seorang gadis bernama Gadis Pantai harus menjalani hidupnya yang berubah total. Kampung nelayan tempat ia tinggal bersama emak, bapak, dan saudara-saudaranya harus ia tinggalkan. Ketika itu ia berumur empat belas tahun, belum matang benar dalam menggali makna hidup. Kehidupannya sebagai anak nelayan miskin di sebuah pinggiran laut bebas harus ia kuburkan. Perkawinannya dengan bangsawan merenggut kehidupan dari habitatnya.

Gadis Pantai berubah menjadi nyonya bangsawan. Ia mencicipi tinggal di rumah megah, dilayani para pembantu, memakai kebaya anggun dan perhiasan mahal, serta belajar mengaji dan membatik. Ia hidup dengan segala kemewahan duniawi. Bertutur kata dengan bahasa bangsawan. Mencoba menggunakan pola pikir para priyayi.

Namun, Gadis Pantai tetaplah gadis dari pantai. Ia tetap rindu akan deburan ombak dan ribuan pasir putih di kampungnya. Ia selalu teringat ayahnya yang merajut jaring ikan. Ia selalu terngiang canda tawa emak bapak dan orang-orang kampungnya. Ia ingin seperti dulu, berada dekat dengan segala bentuk kebebasannya.

Buku karya sastrawan besar

Indonesia

yang suka menulis karya berbau realisme sosialis ini ingin menunjukkan bahwa betapa sulitnya seorang manusia mendapatkan kebebasannya ketika dirinya berbenturan dengan kekuasaan. Kekuasaan berdekatan dengan kekayaan. Kekuasaan dan kekayaan hampir bisa dipastikan bergaul dengan ketamakan. Dalam buku ini manusia yang rakus akan kekuasaan seolah terkungkung dengan kekuasaannya sendiri.

Kisah ini berlatar tempat di daerah Jawa Tengah yang kental akan dikotomi bendoro-sahaya atau bangsawan-rakyat jelata. Ketika sang bangsawan memerintah, si bawahan hanya mengiyakan tanpa diperbolehkan bertanya. Kebebasan berpendapat dilarang, jika melanggar hukumannya akan sangat berat. Gadis Pantai merasakan hal ini. Ia selalu bertanya-tanya bagaimana mungkin manusia memerintahkan manusia lain tanpa memberikan keleluasaan untuk berbicara dan berkehendak.

Gadis Pantai bukanlah gadis berpendidikan. Ia hidup di pinggiran laut lepas yang penduduknya tidak mengenal baca tulis. Ia tidak memiliki secuil pun ilmu dari berbagai buku dan guru. Namun, Gadis Pantai punya naluri kemanusiaan yakni kebebasan. Hebatnya, ia sadar akan kebebasannya sebagai manusia.

Buku ini bukanlah ingin menyuarakan perlunya kebebasan manusia dengan cara berdemonstrasi atau berteriak-teriak di jalan. Kisah ini menyuguhkan hal sederhana bahwa manusia tetap bisa bersuara dalam hati dan mewujudkannya dalam tindakan. Dan Gadis Pantai membuktikan kedua hal tersebut.   

Apakah Pantas?

January 15th, 2008 by akucintabumi

Sore ini saya kesal. Flash disk, sebuah benda kecil penyimpan data, rusak. Barang itu baru saja saya beli seminggu yang lalu di Bandung Electronic Centre (BEC). Waktu itu saya senang karena akhirnya saya bisa menyimpan berbagai data di benda kecil yang berkekuatan dua giga itu. Bayangkan, berbagai data dapat disimpan di sebuah benda kecil. Ini dampak bagus perkembangan teknologi.

Saya memberikan kepercayaan kepada flash disk berwarna oranye itu. Tugas-tugas kuliah, berbagai artikel dari internet, buah pikiran, lagu-lagu kesukaan, semua itu saya simpan di flash disk. Saya simpan benda itu di sebuah tempat pensil yang saya temukan di lemari ibu. Saya bawa dia ke berbagai tempat. Mulai dari rumah paman, perpustakaan, rumah sakit, kembali lagi ke rumah paman, kos sepupu di Depok, tempat fotokopi, warteg pinggir jalan, Taman Ismail Marzuki, sampai di kosan saya. Dia saya perlakukan istimewa. Selalu saya scan antivirus agar ia tak sakit. Saya pegang hati-hati agar ia tak jatuh dari ketinggian berapa pun jaraknya. Saya sayang dia karena ia simpan berbagai data yang telah saya peroleh dan yang telah saya buat dengan segenap jiwa dan raga.

Sampai sore ini, di saat matahari diam-diam pergi ke balik awan, saya masih percaya bahwa dia bisa menjaga berbagai data saya dengan baik. Dan ketika mega berarak hitam datang, saya menemukan ia telah tiada. Ceritanya saya menemani Lusi, kawan kampus saya, menge-print cover tugasnya. Data Lusi ada di flash disk saya. Sampai di rental Pangdam, ternyata flash disk saya tak terbaca. Kala itu saya masih tenang-tenang saja. Saya pikir mungkin karena komputer di rental itu tidak bisa membaca flash disk saya.

Pulanglah kami berdua ke kos saya. Sampai di kamar saya nyalakan komputer. Saya masukkan dia ke port USB. Dan yang terjadi sama halnya dengan kejadian di rental tadi. Flash disk saya tak terbaca. Saya mulai cemas. Lusi bilang kemungkinan besar flash disk saya sudah rusak. Itu dia katakan selesai saya bercerita komputer di rental yang tiba-tiba mati ketika flash disk saya masih terbenam di dalamnya. Kecemasan saya semakin meningkat. Saya teringat akan data-data di dalam flash disk saya. Berbagai tempat yang saya datangai bersama flash disk itu terlintas pula di benak saya. Kepercayaan itu tidak runtuh. Tidak sama sekali. Saya masih terus saja mengutak-atik komputer. Siapa tahu flash disk saya masih bisa terselamatkan. Namun usaha saya membuahkan kesedihan. Ternyata benda itu tak juga membuka. Tak bernyawa.

Saya meradang di kasur. Persetan dengan benda kecil tersebut! Saya butuh data-data saya. Runtuh sudah kepercayaan saya pada flash disk dua giga itu. Sialan juga itu si penjual flash disk yang bilang bahwa flash disk jarang sekali rusak. Oh, mungkin ini flash disk yang masuk kelompok flash disk rusak. Baiklah, saya mencoba memahami keadaan si penjual. Namanya juga mencari uang. Keluarlah kata-kata dahsyat untuk menarik orang agar membeli produknya. Si penjual butuh makan, bukan?

Lantas, siapa yang harus saya salahkan? Pembuat flash disk? Perancang sistem flash disk? Atau pemilik rental yang tidak bisa merawat komputernya? Kesal saya tumpahkan saja di atas bantal. Dinginnya malam jadi saksi. Tanyakan saja padanya kalau bisa. Hampir tiga jam saya membayangkan perjalanan saya dengan flash disk itu. Di waktu itu pula saya mencoba mengingat data apa saja yang lenyap tak berbekas. Sedih.

Kesedihan saya bawa ke pinggir jalan raya. Saya bagi kepada rintik-rintik hujan. Saya berikan pula kepada jaket abu-abu yang menaungi tubuh ini. Saya katakan kepada mereka saya tidak ingin sedih dan kesal hati. Entah mereka dengar atau tidak. Kaki terus melangkah. Setiap langkah saya coba mendamaikan diri saya. Dan sampailah saya pada pertanyaan: pantaskah saya bersedih? Ya, dia memang penyimpan data yang saya beli seharga seratus dua puluh lima ribu rupiah. Dia yang membantu saya mengkristalkan data-data saya. Tetapi ketika dia tak berfungsi lagi mengapa saya harus bersedih? Data masih bisa saya cari. Soal uang itu memang bermasalah. Kalau ada uang saya beli, kalau tak ada pinjam saja kepada Lusi atau kawan lain yang berbaik hati.

Uang bisa dicari. Caranya mungkin saya harus mengurangi jatah uang makan. Atau mengilokan koran yang bertumpuk di kamar kosan. Ini masalah yang tak perlu dipikirkan sampai harus sedih sekali. Bisa gila lama-lama. Jadi tak pantas kalau saya sedih, murung, dan kecewa. Tak pantas. Saya hanya perlu merefleksikan diri untuk bisa belajar menjaga barang dengan lebih baik lagi.

Sepantasnyalah saya sedih, murung, dan kecewa jika kehilangan keluarga, kawan-kawan, mbak di warteg pangdam, ibu di fotokopian depan Alfamart Sayang, istri bapak kosan, bapak penjual rokok, penjaga rental di pertigaan Sayang, dan orang-orang dekat lainnya yang saya jumpai setiap saat. Mereka tak terbeli dengan uang. Berapapun bayarannya.

Saya Takut, Kawan

December 2nd, 2007 by akucintabumi

Sudah tiga minggu saya mendapati beberapa kawan saya tidak terlihat di kampus. Atau jarang duduk bersama ngobrol ke sana ke mari seperti biasa. Mungkin ini karena ada tugas in-depth reporting yang agak merepotkan. Harus getting ke mana-mana. Harus wawancara. Bolak-balik ke SBA urus surat izin. Atau ada juga yang sudah jenuh dengan kondisi kampus. Atau ada kegiatan lain di luar kampus. Atau ada yang malas ke kampus. Dan atau atau atau yang lainnya….

Senin lalu isi kelas tidak seramai biasanya. Cuma segelintir kawan yang masuk kuliah Kapsel. Biasanya kalau saya duduk di bangku deretan depan, saya akan menengok kawan-kawan yang duduk di belakang. Dan saya akan melihat kawan-kawan yang tengah mengerutkan dahinya tanda masih terbingung-bingung dengan penjelasan dosen. Ada juga yang menguap berkali-kali. Belum lagi terdengar bisikan kawan-kawan yang mengomentari dosen. Ada pula yang sibuk ber-SMS-an. Tetapi kelas yang lalu tidak begitu. Saat saya menengok yang terlihat hanya beberapa kawan di deretan kursi-kursi kosong. Layaknya deretan kursi kosong seperti itulah perasaan saya. Begitulah…

Jarak

Dan Adam turun di hutan-hutan

Mengabur dalam dongengan

Dan kita tiba-tiba di sini

Tengadah ke langit: kosong-sepi …

-Sapardi Djoko Damono-

Dan entah mengapa saya merindukan semua kawan saya masuk kelas. Kemudian rasa rindu itu menjadi rasa takut yang berkecamuk dalam dada. Sulit untuk diungkapkan. Tapi saya tahu satu hal: saya takut kehilangan kawan-kawan saya. Hari ini ketakutan itu makin meningkat ketika saya tahu ini tanggal 29 November. Sebentar lagi masuk ke Desember. Itu berarti tinggal 3 minggu lagi saya kuliah.

Saya masih ingin kuliah, kawan.

Saya masih ingin bersua dan berbincang-bincang, kawan.

Saya masih ingin duduk mengopi dan merokok bersama, kawan.

Saya masih ingin kebersamaan itu.

Para Priyayi-nya Umar Kamar

November 20th, 2007 by akucintabumi

Para priyayi telah menjadi sebuah bagian sejarah yang tidak dapat terpisahkan ketika kita berbicara era pra kemerdekaan. Kelompok ini memiliki kedekatan dengan kekuasaan, kemewahan, dan kehormatan. Dalam bukunya, Para Priyayi, Umar Kayam berhasil menggambarkan kehidupan priyayi dari dekat. Menjadi priyayi adalah sebuah ketidakmustahilan, biarpun ia berasal dari golongan bawah. Segala daya upaya ditumpahkan agar seseorang bisa masuk golongan priyayi. Kegemilangan sebuah keluarga dapat dilihat dari upayanya menjadikan keluarganya atau setidak-tidaknya salah satu dari anggota keluarga menjadi priyayi.

Adalah Lantip, seroang anak penjual tempe keliling di Wanagalih. Di umur yang masih belia, ia dititipkan emboknya di rumah keluarga Sastrodarsono, keluarga priyayi terpandang di kabupaten. Ia sudah dianggap anak di rumah besar tersebut.

Sastrodarsono benar-benar seorang ayah yang bijak dan pamong yang mampu mengayomi warga di sekitarnya. Kebijakan melingkupi Sastrodarsono. Ia bukanlah turunan priyayi. Status priyayi diperolehnya dengan kerja keras yang luar biasa. Pendidikan tinggi menjadi kendaraannya agar masuk sebagai kelompok priyayi.

Bersama istrinya, Ngaisah, Sastrodarsono membangun keluarga priyayi. Sebuah keluarga yang ia identikkan dengan pohon nangka di depan rumahnya sendiri. Baginya, pohon nangka itu menjadi saksi kesempurnaan keluarganya menjadi priyayi. Cabang-cabangnya yang besar memberi arti keturunannya yang juga akan meneruskan perjuangannya untuk mengabdi kepada masyarakat.

Sastrodarsono bukanlah priyayi yang hanya duduk menikmati kemewahan yang dimilikinya. Ia masuk ke pelosok pedesaan, membangun sekolah rakyat, dan memercikkan kebijakan bagi warga sekitar. Ia tanamkan jiwa priyayi yang kuat bagi ketiga anaknya untuk selalu berada di jalan yang benar dengan segenap keteguhan hati sebagai bagian dari masyarakat kecil.

Kehidupan sosialnya amatlah baik. Ia bisa bergaul dengan para priyayi yang lain. Walaupun berbeda pandangan, ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Ia juga memiliki hubungan yang amat baik dengan warga sekitar. Kehidupan keluarganya yang harmonis dibangun atas dasar pendidikannya yang berbasis budaya Jawa. Wedhatama, Wulangreh, dan Tripama tak pernah lupa ia ajarkan kepada ketiga anaknya.

Namun, hidup tidaklah semulus yang diharapkan. Ketiga anaknya yakni Noegroho, Hardojo, dan Soemini punya persoalan hidup masing-masing. Sampai mereka sudah berkeluarga sekali pun, persoalan hidup yang menghadang selalu dibagikan kepada ayah ibunya.

Berbagai masalah menimpa keluarga Sastrodarsono. Tidak hanya masalah anak-anaknya, cucunya yang dilanda masalah pun berhasil dipecahkan Sastrodarsono dengan bantuan dari Lantip. Sebagai anak angkat Noegroho, Lantip selalu menyingsingkan lengan saat keluarga priyayi itu dilanda masalah. Ia menuntaskan semuanya itu dengan segala ketulusan hati dan kebijakan sikap yang dianutnya dari bimbingan Sastrodarsono.

Keharmonisan keluarga Sastrodarsono kental terasa saat mereka berkumpul di kediaman Sastrodarsono. Bukan suasana tenang di desa yang menjadi perekat keluarga besar itu. Ada rasa yang lebih berarti. Rasa kekeluargaan. Keterbukaan. Kebijaksanaan. Cinta kasih. Dibalut tradisi Jawa yang mengatasnamakan kesatuan sebuah keluarga, mereka melebur dalam irama hidup penuh pengorbanan, pengharapan, dan kasih.

Namun, terkadang manusia tidak bisa berharap terlalu besar pada garis hidup yang diberikan Sang Pencipta. Ada saat seorang manusia harus menerima kenyataan bahwa kesatuan sebuah keluarga juga berarti kesatuan untuk rela melepaskan bagian dari sebuah kebulatan itu sendiri.

Tak berlangsung lama setelah kepergian istrinya, Sastrodarsono pun menyusul. Ia seda di “istananya”. Ia menutup mata dikelilingi keluarga besarnya. Ia meninggal dengan penuh senyum kebahagiaan.

Lantiplah orang yang memberikan pidato saat penguburan Sastrodarsono. Di tengah makam, Lantip menuturkan kisah hidup Ndoro Guru Kakungnya dari seorang anak petani kecil menjadi seorang priyayi yang bersahaja. Berikut kutipan Lantip menutup upacara pemakaman Sastrodarsono.

“Adapun warna semangat itu bukanlah terutama warna halus, luwes, elegan, dari filsafat rumit seperti yang banyak disangka orang, bahkan oleh kaum priyayi sendiri. Warna semangat itu adalah warna pengabdian kepada masyarakat banyak, terutama kepada wong cilik, tanpa pamrih kecuali berhasilnya pengabdian itu sendiri. Warna itu adalah warna semangat kerakyatan. Itulah galih yang ingin ditumbuhkan oleh Embah Kangkung dalam keluarga besarnya dalam semangat kerukunan dan persaudaraan.”

Buku ini mengungkapkan kehidupan priyayi dari dekat, dari keluarga batih. Amat menarik mengupas buku ini. Umar Kayam dapat memotret pola pikir keluarga priyayi, kesederhanaan sekaligus kemewahan, dan nilai-nilai hidup orang Jawa. 

Cinta Si Pelaut dan Si Realis

October 28th, 2007 by akucintabumi

Hari ini saya menghabiskan seperempat hari bersama dua kawan. Kami bercerita dengan hati riang. Canda tawa terdengar membahana di kamar saya. Rokok dan teh menjadi saksi sejati pembicaraan kami.

Sama seperti hari-hari yang lalu. Itu lagi yang kami bicarakan. Biasalah, soal percintaan. Tak pernah habis-habisnya. Si kawan monumental bercerita soal sepak terjangnya di dunia cinta para pelaut. Ia melanglang buana dari satu pulau ke pulau lain. Bertemu dengan perempuan yang menarik hatinya. Jatuh cinta, ya. Rasa sayang, itu sudah pasti. Tapi bukan berarti harus memiliki, ujarnya.

Si pejuang cinta yang lain berseloroh soal snek-sneknya dengan perempuan idamannya. Ia bercinta dengan realis, menurut saya. Ditolak si perempuan, ia balas dengan sebuah pengertian. Paham kalau dirinya tidak bisa berdampingan dengan sang perempuan pujaan. Hatinya gundah, pikiran logisnya tetap jalan. Walaupun ia mengaku sering seranjang dengan kegelisahan, ia selalu bertahan. Ia punya taktik sendiri untuk mengakali sang perempuan pujaan.

Kedua kawan saya itu berada di jalur percintaan masing-masing. Punya moto sendiri-sendiri. Punya strategi percintaan yang berani.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

-Sapardi Djoko Damono-

Sesudah pembicaraan usai dan mereka pulang, saya tersenyum sendiri. Cinta memang istimewa. Ia punya ciri khas yang sulit didefinisikan dengan kata-kata. Saya bisa merasakan perasaan kedua kawan saya itu. Namun, sulit bagi saya untuk menyatakannya dengan kata-kata.

Saya tidak mau terjebak pada pendefinisian cinta dengan kata-kata sebagai pagarnya. Saya mau merasakan kenikmatannya lewat cerita kawan-kawan saya itu. Lagi-lagi saya tersenyum saat mengetik tulisan ini. Ingat kisah cinta mereka. Sederhana dan indah.